Tax Center Undip: Open Recruitmen Relawan Pajak 2021
Link pendaftaran: http://bit.ly/Relawan_Pajak_2021_TaxCenterUndip

Riwayat Berdirinya Universitas Diponegoro
Link pendaftaran: http://bit.ly/Relawan_Pajak_2021_TaxCenterUndip
Kamis (24/1) bertempat di Ruang Sidang Utama Lt. II Gedung Dekanat FEB UNDIP, Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) mengadakan forum diskusi dengan tema Perencanaan Pembangunan dalam Rangka Penyusunan RPJMN 2020-2024. Acara ini dihadiri oleh mahasiswa S1, S2, dan S3 Universitas Diponegoro, serta mahasiswa dari Universitas USM dan UIN Walisongo. Forum diskusi kali ini menghadirkan dua keynote speaker, yaitu Dr.Muhammad Cholifihani, S.E., M.A. selaku Direktur Jasa Keuangan dan BUMN – Bappenas RI dan Eka Chandra Buana, S.E., M.A. selaku Direktur Perencanaan Makro dan Analis Statistik – Bappenas RI. Masing-masing keynote speaker membawakan materi yang berbeda. Eka Chandra Buana, S.E., M.A. menyampaikan materi seputar “Kerangka Ekonomi Makro 2020-2024”. Eka menyebutkan beberapa alasan yang menyebabkan tidak berjalannya transformasi struktural, diantaranya adalah regulasi yang tumpang tindih dan birokrasi yang menghambat, rendahnya kualitas SDM & produktivitas tenaga kerja, dan kualitas infrastruktur yang masih rendah. Faktor-faktor tersebut merupakan penyebab rendahnya inovasi dan kualitas investasi. Berbagai upaya yang dapat ditempuh guna mengatasi permasalahan ini adalah dengan memfasilitasi transformasi struktural melalui peningkatan efisiensi, produktivitas dan nilai tambah. Perbaikan di sisi suplai juga diperlukan, diimbangi dengan penguatan permintaan domestik serta peningkatan kinerja perdagangan internasional. Sementara materi kedua yang disampaikan oleh Dr. Muhammad Cholifihani, S.E., M.A. berkaitan dengan “Pendalaman Keuangan Di Indonesia dan Arah Kebijakan Keuangan Inklusif”. Dalam pemaparannya Cholifihani menyampaikan bahwa kebijakan keuangan inklusif adalah suatu bentuk pendalaman keuangan (financial deepening) yang ditujukan pada masyarakat in the bottom of the pyramid untuk memanfaatkan layanan keuangan formal. Terdapat dua indikator utama dalam keuangan inklusif, yaitu DPK/ PDB dan Kredit/ PDB. Pemerintah dalam hal ini telah menyusun arah kebijakan terkait dua indikator tersebut, salah satunya seputar arah kebijakan untuk mendorong berkembangnya UMKM.
Pada Kamis minggu lalu (14/03), bertempat di Hall Gedung C Fakultas Ekonomika dan Bisnis, telah berlangsung acara Kuliah Dosen Tamu dengan tema Global Leadership. Pada kesempatan kali ini, International Office FEB Undip menghadirkan Professor Robert Evans selaku Dekan Internasional Fakultas Bisnis dan Hukum Universitas Curtin sebagai narasumber. Acara ini mendapat respon yang positif dari kalangan mahasiswa khususnya mahasiswa FEB. Hal tersebut dibuktikan dari banyaknya peserta yang turut hadir dalam acara ini. Sejalan dengan tema yang diusung, Professor Robert menyampaikan materi seputar Global Leadership kepada pada audience. Pada kesempatan tersebut, beliau menjelaskan bagaimana perbedaan kepemimpinan dengan manajemen dari berbagai aspek. Guna memberi penjelasan yang mendalam terkait Global Leadership, Professor Robert juga memaparkan berbagai hal yang menjadi tantangan dalam Global Leadership. Berdasarkan pemaparan beliau, setidaknya terdapat 7 hal yang menjadi tantangan dalam mengelola kepemimpinan global, salah satunya adalah perbedaan budaya. Demi mendukung pemaparan materinya, Professor Robert memberikan kutipan tayangan tentang bagaimana Sundar Pichai selaku CEO Google dalam menjalankan kepemimpinan globalnya. Dengan penayangan video tersebut, mampu memberikan gambaran kepada audience tentang kunci sukses dalam menjadi seorang pemimpin global. Salah satu hal yang identik dengan kepemimpinan global ialah faktor perbedaan budaya. Berkaitan dengan perbedaan budaya, beliau mencoba membandingkan kebudayaan Indonesia dengan Australia berdasarkan kerangka kebudayaan menurut Hofstede. Mengacu pada materi yang diberikan Professor Robert, kita dapat mengetahui bahwa antara Indonesia dengan Australia memiliki kebudayaan yang sangat berbeda.
Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Diponegoro kembali mengirimkan mahasiswa untuk mengikuti program double degree di luar negeri. Kelas Internasional FEB Undip juga telah mengirimkan delapan mahasiswa untuk melaksanakan Credit Transfer System (CTS) ke Universiti Teknologi Malaysia pada bulan Januari 2019 selama 1 semester. Pada bulan Februari 2019, lima mahasiswa Kelas Internasional FEB Undip dikirimkan untuk melaksanakan program double degree ke Medicis Business School and University of Reunion, Paris, France, berkoordinasi dengan lembaga A2ID (Association Internationale et Interdiciplinaire de la Decision). Mereka adalah mahasiswa kelas internasional Accounting dan International Business angkatan 2016 dan 2017. Kelima mahasiswa tersebut adalah Ong Teenya Augustine, Liana Novani Putri, Kristian Benardo, Muhammad Izudin Irfan, dan Kevin Naufal Nadhif. Kelima mahasiswa ini akan menjalani 1 tahun masa perkuliahannya di Medicis Business School and University of Reunion, Paris, France. Pelepasan mahasiswa Program double degree oleh Dekan FEB Undip Dr. Suharnomo dan Direktur International Office FEB Undip Dr. Jaka Aminata di Ruang Dekan pada 15 Februari 2019. Diharapkan mahasiswa yang mengikuti program double degree akan mendapatkan banyak pengetahuan dan keterampilan untuk sukses dalam lingkungan bisnis global serta mengharumkan nama institusi FEB Undip pada tataran Internasional.
Di Hall Gedung C Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Diponegoro telah digelar Talk Show Tumbuh Kembangkan Usaha Mikro Kecil pada hari Senin, 11 Maret 2019. Talk Show yang menjadi pembukaan kegiatan Dies Natalis FEB Undip ke-59 ini mengundang Achsin Ma’ruf (Komisi B DPRD Jateng), Bima Kartika (Sekretaris Dinas Koperasi dan UMKM Jateng), Suharnomo (Dosen dan Dekan FEB Undip), dan Wakhyu Hidayat (Kepala Kanwil V Jamkrindo). Acara talkshow dipadati oleh peserta dari dosen, karyawan dan mahasiswa dari FEB Undip dan peserta dari umum. Achsin Ma’ruf sebagai narasumber pertama menjelaskan bahwa di Indonesia memiliki jumlah 3% pengusaha dari total penduduk Indonesia. Jumlah ini masih sedikit daripada negara di Asia seperti Thailand dengan jumlah pengusaha sebanyak 4.5%, Malaysia 5% pengusaha dan Singapura 7% pengusaha. “Tantangan kesejahteraan masyarakat dilihat dari sektor pengusaha. Jika pengusaha tinggi maka negara nya akan sejahtera”, jelasnya. Upaya pemerintah pusat dan provinsi sudah konsisten terkait menumbuhkembangkan UMKM dan pengusaha. Pemerintah harus hadir sehingga jumlah pengusaha yang ada bertambah dan menstimultan masyarakat untuk ber-entrepreneur. Achsin juga menambahkan bahwa market pasar di era industri 4.0, UMKM harus mengikuti arah market ke industri 4.0, pasar offline akan tergerus bisa jadi mati dengan hadir nya pasar online. Pembicara kedua Suharnomo menyampaikan kutipan tren dunia global buku karya Dr. Richard Florida – The Rise of the Creative Class, “Pada akhirnya bangsa-bangsa/kota-kota ditentukan oleh masyarakat elit kreatif-nya, semakin banyak elit kreatif yang menggerakan kota tersebut akan menjadikan kota tersebut menjadi kompetitif di area global”, ungkapnya. Kampus FEB Undip melalui Inkubator Bisnis Klinik Kewirausahaan dan Inkubator Bisnis Undip menampung startup bisnis yang mengarah pada start up digital, take a lead economy ke depan adalah berbasis kreatifitas dan inovation. Kampus memiliki produk riset dan inovasi tapi sebagian besar belum di hilirisasi atau di implementasikan ke masyarakat. Menurut Suharnomo, Pengembangan UMKM harus di dasarkan pada riset untuk mendapatkan keunggulan, jika tidak produk akan menjadi tidak kompetitif di pasar. Tren yang harus diubah dari product dan production approach menjadi market approach terlebih dahulu, kemudian baru membicarakan packaging dan meng-online kan produk dalam penjualan. “Riset pasar wajib hukumnya, karena lebih mudah memenuhi dengan adanya kebutuhan pasar dan kemudian memenuhi yang dibutuhkan pasar, tambah Suharnomo. Pembicara selanjutnya dari Dinas Koperasi dan UMKM Jateng, Bima Kartika mengungkapkan bahwa tugas berat Dinas Koperasi adalah untuk mendorong UMKM yang ada untuk tumbuh dengan cepat. Cara yang dilakukan yaitu mendorong sumber daya manusia, karena SDM adalah kunci dari berkembangnya dari sebuah UMKM, pendekatan kualitas SDM dipercepat dengan strategi melalui kelompok atau sentra kelompok, dan Balatkop (Balai Latihan Koperasi) untuk menumbuhkan UMKM yang dapat menyentuh manajerial, vokasional dan kompetensi UMKM. Berikutnya, melalui pembiayaan dengan cara mempermudah akses permodalan UMKM. “Setiap hari sosialisasi dan fasilitasi UMKM di Jateng kita pertemukan dengan sumber pembiayaan bank dan non bank, Jamkrida, Jamkrindo, Bank Jateng untuk mempermudah akses pembiayaan bagi UMKM”, ungkapnya. Kepala Kantor Wilayah V Jamkrindo, Wakhyu Hidayatullah, menyampaikan bahwa UMKM tidak lepas keterbatasan pemasaran, sumber daya manusia, finansial, teknologi, maka UMKM wajib dibantu. Jamkrindo dalam hal ini membantu UMKM di masalah finansial bagi UMKM yang kekurangan agunan dan punya usaha yang layak agar dapat mengakses ke perbankan dan non perbankan. Saat ini, Jamkrindo Kanwil V sudah melakukan penjaminan 27 trilyun di Jateng untuk 574 ribu nasabah, dan masih ada yang belum melakukan penjaminan ke Jamkrindo dan masih banyak peluang untuk UMKM. Wakhyu menyampaikan “Yang menjadi masalah dari sisi pembinaan, saat ini departemen banyak pihak yang melakukan pendampingan UMKM tetapi belum terintegrasi akhirnya UMKM tidak terurus dengan baik, tantangan saat ini pembina – pembina yang ada bisa terintegrasi untuk membina UMKM”. Jamkrindo ke depannya akan membuka marketplace guarantee, di market place ini UMKM akan dirating dan dipajang agar lembaga pembiayaan dapat memilih UMKM yang diinginkan.
Link : https://youtu.be/bDqgtldWArQ Dalam rangka Dies Natalis FEB Undip ke-59, FEB Undip akan menghelat Pidato Ilmiah Dies Natalis. Narasumber pada acara pidato ilmiah ini: 1. Menristekdikti RI: Prof. Moh. Nasir, Ph.D. 2. Rektor Universitas Nasional: Dr. El Amri Bermawi Putra 3. Cyber Edu Inkor: Prof. Jang Youn Cho, Ph.D.
Rabu (13/03), bertempat di Hall Ged. Kewirausahaan Lt. 4, FEB Undip merayakan dies natalis yang ke 59. Pada dies natalis kali ini Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Republik Indonesia Prof. H. Muhammad Nasir, Ph.D., AK menyampaikan pidato ilmiah dengan tema “Dampak Revolusi Industri 4.0 pada Pendidikan Tinggi di Indonesia”. Acara ini dibuka langsung oleh Wakil Rektor II Bidang Sumber Daya Dr. Darsono, S.E., Akt., MBA dan dihadiri juga oleh Dr. Suharnomo., S.E., M.Si. selaku Dekan FEB Undip, Sekjen Kemenristekdikti Prof. Ainun Na’im, Ph.D M.B.A serta guru besar dan tamu undangan lainnya. Dalam pidatonya Menteri Nasir mengungkapkan banyak hal mengenai tantangan perguruan tinggi ke depannya akibat revolusi industri 4.0 seperti meningkatkan indeks pembangunan manusia dan perlunya pemotongan struktur organisasi di tingkat universitas, pendirian program studi baru yang berorientasi masa depan dan berpesan kepada perguruan tinggi agar dapat memberikan terobosan baru dalam hal program studi. Ia juga berpesan agar perguruan tinggi bisa mencetak mahasiswa menjadi wirausaha yang kreatif dan berkontribusi pada pembangunan sumber daya bangsa. Selain pidato ilmiah yang disampaikan oleh Menteri Ristekdikti, acara dilanjutkan dengan diskusi panel yang disampaikan langsung oleh selaku Rektor Universitas Nasional, Jakarta yang diwakili oleh Wakil Rektor I Universitas Nasional Prof. Dr. Iskandar Fitri, ST., MT. dan Prof. Jang Youn Cho, Ph.D dari Hankuk University of Foreign Studies Korea dengan tema Pengelolaan Pendidikan Tinggi di Era Revolusi Industri 4.0 Prof. Cho menjelaskan mengenai perbedaan Pendidikan tinggi di Korea dengan di Indonesia, beliau juga menjelaskan mengenai pengelolaan pendidikan tinggi di Korea yang diharapkan dapat diterapkan di Indonesia. Prof. Iskandar juga menegaskan mengenai dampak-dampak revolusi industri 4.0 dan persiapan pendidikan tinggi menuju revolusi industri 5.0 yaitu dimana Internet of Things dan Internet of Humans saling berkorelasi.
Sabtu (16/03/19). Dalam rangka memperingati Dies Natalis yang ke-59, Fakultas Ekonomika dan Bisnis Undip menyelenggarakan acara fun walk yang bertempat di Dome FEB Undip. Acara diawali dengan senam bersama di Lapangan Dekanat FEB Undip pada pukul 06.00 WIB, kemudian dilanjutkan dengan jalan sehat yang dibuka dengan pelepasan balon oleh Dekan FEB Undip Dr Suharnomo., SE., M.Si. Jalan sehat diikuti oleh kurang lebih 263 peserta yang terdiri dari dosen, karyawan, alumni, dan mahasiswa FEB Undip. Fun walk tahun ini mengambil rute dengan garis start Lapangan Dekanat FEB Undip – FIB Undip – Widya Puraya – Teknik Elektro – Fakultas Kesehatan Masyarakat – Fakultas Psikologi dan garis finish di pintu masuk FEB. Setelah pelaksanaan jalan sehat, tibalah pada acara hiburan. Acara ini dibuka oleh sambutan dari Ketua Departemen Akuntansi Fuad., M.Si.,Ph.D selaku Ketua Panitia Dies Natalis FEB Undip ke-59. Selain Dekan FEB Undip Dr. Suharnomo., SE., M.Si. turut hadir pula Ausi Kurnia Kawoco selaku perwakilan dari Ikafe Undip. Agenda dilanjutkan dengan sarapan bersama yang diiringi oleh penampilan band dari mahasiswa dan karyawan. Acara fun walk kali ini semakin menarik dengan adanya pembagian doorprize tiga unit sepeda motor, televisi, kulkas, sepeda gunung, beasiswa, dan berbagai hadiah lainnya. Terima kasih kepada para sponsor dan para pihak yang telah berpartisipasi dalam seluruh kegiatan sehingga acara berjalan lancar dan sukses.
Selasa (26/03) Departemen Akuntansi FEB Undip mengadakan seminar nasional bertajuk “Dampak Revolusi Industri 4.0 pada Peran Pendidikan Akuntansi”. Bertempat di hall gedung C FEB Undip, seminar ini juga dibuka langsung oleh Dr. Suharnomo, S.E., M.Si selaku dekan FEB Undip, Fuad, Ph.D selaku Kepala Departemen Akuntansi FEB Undip. Acara ini dihadiri oleh dosen akuntansi dari perguruan tinggi di Jawa Tengah. Acara ini di otorisasi oleh IAI (Ikatan Akuntan Indonesia) dan seluruh departemen akuntansi seluruh universitas yang ada di Jawa Tengah. Materi seminar disampaikan langsung para pakar akuntansi yaitu Syaiful Ali, SE., MIS., PHD., CA dan Prof. Dr. Dian Agustia, SE., Ak., CA., CMA. Dijelaskan bahwa dalam era Revolusi Industri 4.0 kurikulum pendidikan akuntansi harus disesuaikan mencakup tujuan pembelajaran untuk mengembangkan ketrampilan dan pengetahuan yang terkait dengan integrasi teknologi informasi ke dalam bidang akuntansi dan bisnis. Dalam acara seminar nasional ini, diadakan pula Launching Forum Dosen Akuntansi Perguruan Tinggi Jawa Tengah. Tujuan dari terbentuknya forum ini adalah untuk mensinergikan pembelajaran dan kurikulum serta sarana bertukar pikiran bagi akuntan pendidik perguruan tinggi di Jawa Tengah. Dengan dibentuknya forum ini diharapkan para akuntan pendidik di Jawa Tengah bisa menyamakan tujuan dalam mengembangkan proses pembelajaran agar bisa mengikuti perkembangan zaman.
Dalam rangka memenuhi tuntutan perguruan tinggi yaitu akreditasi dan sertifikasi terkait dengan layanan laboratorium, dan lab penelitian yang menjadi Indikator Kerja Universitas Diponegoro (IKU-Undip), Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Diponegoro (FEB Undip) pada tanggal 29 – 30 April 2019 melakukan studi banding ke instansi-instansi yang berwenang atas akreditasi dan sertifikasi di Jakarta. Hal ini dilakukan sebagai langkah untuk mendukung Undip menjadi perguruan tinggi berstandar internasional dengan kualitas sumber daya yang unggul melalui penilaian akreditasi dan standarisasi. Kegiatan studi banding yang dipimpin oleh Wakil Dekan Bidang Riset dan Inovasi FEB Undip, Firmansyah, Ph.D, diikuti oleh Anis Chariri, Ph.D. (Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kemahasiswaan FEB Undip), Dr. Endang Fatmawati (Kepala Perpustakaan FEB Undip), staf ahli Bidang Riset dan Inovasi, Andrian B.P., S.E., M.Si., dan staf Bidang Riset dan Inovasi, Yonathan S. dan Dita Wahyu P.. Studi banding dilaksanakan di Jakarta dengan tujuan tiga instansi yaitu Komite Akreditasi Nasional – Badan Standarisasi Nasional (KAN-BSN), Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP), dan Perpustakaan Nasional RI. FEB sampai saat ini dan ke depan terus melakukan berbagai pelatihan-pelatihan pada laboratorium studi, dan melalui kunjungan ini FEB dapat memahami standar untuk sertifikasi yang harus dilakukan, termasuk akreditasi terhadap unit layanan di FEB UNDIP. Diharapkan setelah kunjungan studi ini beberapa unit layanan seperti laboratorium dan perpustakaan dapat menuju penilaian akreditasi, dan laboratorium studi sebagai penunjang penelitian dan pelatihan, dapat menjadi lembaga sertifikasi untuk mahasiswa, lulusan dan masyarakat umum agar siap memiliki standar yang dapat bersaing di dunia bisnis dan pekerjaan, baik secara nasional maupun global.