Temu Kangen dan Nostalgia Bersama Alumni FEB Undip Angkatan 1967
Hari Rabu (23/8), Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Diponegoro (FEB Undip) mendapatkan kunjungan dari para Alumni FEB Undip angkatan tahun 1967. Rombongan diterima di Ruang Sidang Senat, Gd.Dekanat FEB Undip oleh Wakil Dekan II, Wahyu Meiranto, SE., M.Si., Akt. dan Wakil Dekan III, Amie Kusumawardhani, Ph.D.. Kegiatan ini merupakan suatu agenda dari alumni angkatan 1967 untuk reuni, temu kangen dan bernostalgia di kampus FEB Undip tercinta. Hadir diantara rombongan alumni, Budi S. Pranoto yang saat ini menjabat sebagai Komisaris Independent PT. Sidomuncul, Tbk.. Walau di usia senja tetapi masih sangat bersemangat, hal itu dibuktikan dengan menyanyikan yel Economy Goes Marching In yang dinyanyikan bersama-sama. Dari kegiatan kunjungan ini, FEB mendapat banyak sekali sumbangan usulan yang membangun, diantaranya tentang bagaimana mempersiapkan lulusan yg kompetitif di dunia kerja.
387 Lulusan Dilepas Dalam Tasyakuran Wisuda FEB Undip Periode 147 Bulan Juli 2017
Hari Rabu, 9 Agustus 2017 telah digelar acara Tasyakuran Wisuda Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Diponegoro ke-147 Bulan Juli 2017. Acara tasyakuran yang telah terlaksana di Hall Rama-Shinta, Hotel Patra Jasa, Semarang merupakan kegiatan rutin FEB Undip untuk melepas para wisudawan-wisudawati periode ketiga di tahun 2017. Acara ini juga dimeriahkan oleh penampilan band Dokarmas dengan personel Dosen, Karyawan dan Mahasiswa FEB Undip. Dalam acara tayakuran ini, Amie Kusumawardhan, Ph.D. selaku Wakil Dekan Bidang Komunikasi dan Bisnis melaporkan FEB Undip melepas lulusan yang terdiri dari 160 orang jenjang Strata 1 (S1) dan 227 orang dari jenjang Diploma (D3). Dari wisudawan tersebut yang memperoleh predikat wisudawan terbaik adalah Christy Natalia Silaban (S1 Manajemen, IPK. 3.92), Sarah Aulia (S1 IESP, IPK. 3.93), Dian Rakhmawati (S1 Akuntansi, IPK. 3.94), Avin Evilia Wahyuningrum (D3 Akuntansi, IPK.3.97), Yani Amalia (D3 Akuntansi, IPK. 3.97), Nifsu Laili Ruwaida (D3 Manajemen Perusahaan, IPK. 3.96), Triana Marstella Boru Purba (D3 Perpajakan, IPK. 3.91). Wisuda bukanlah suatu akhir, tetapi wisuda adalah awal untuk menapaki tantangan hidup yang sebenarnya. Selamat kepada lulusan FEB Undip, semoga sukses selalu. Ekonomi Jaya, Jaya Ekonomi, Undip Jaya.
Dekan FEB Undip, Dr. Suharnomo Menerima Mahasiswa Baru FEB Angkatan 2017/2018
Selasa (8/8/2017), bertempat di Lapangan Dekanat Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) telah berlangsung upacara penerimaan mahasiswa baru Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Diponegoro tahun ajaran 2017/2018. Upacara ini dipimpin oleh Ketua Pelaksana Orientasi Diponegoro Muda FEB. Hadir dalam upacara ini, pejabat FEB antara lain Dekan, Wakil Dekan, Ketua/Sekretaris Departemen, Dosen, Perwakilan Senat Mahasiswa, BEM FEB, serta himpunan mahasiswa dari Departemen IESP, Akuntansi, Manajemen, dan Ekonomi Islam. Rangkaian upacara penerimaan mahasiswa baru Fakultas Ekonomika dan Bisnis antara lain, menyanyikan lagu Indonesia Raya, Mars dan Hymne Undip, sambutan dari Dekan FEB, pengenalan jajaran dekanat dan dosen oleh Dekan FEB, pembacaan doa, dan orasi mahasiswa oleh Ketua BEM FEB. Penerimaan mahasiswa baru secara simbolis berupa penyematan ID Card kepada perwakilan mahasiswa putra dan putri, kemudian dilanjutkan dengan penerbangan balon. Dalam sambutannya, Suharnomo (Dekan FEB Undip) berpesan bahwa mahasiswa harus memahami adab keilmuan, jadilah aktivis, tingkatkan kemampuan berbahasa inggris, mahasiswa harus aktif dan terbiasa berkompetisi, jadilah pencari kerja yang berkualitas, serta aturlah waktu dengan baik. Selamat Datang Mahasiswa Baru Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Diponegoro, Selamat Bergabung dalam Keluarga Besar FEB Undip.
Asia University, Taiwan Belajar Membatik di FEB Undip
Pada Tanggal 31 Juli 2017 – 1 Agustus 2017 Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Diponegoro (FEB Undip) mendapatkan kunjungan sembilan mahasiswa dari Asia University, Taiwan. Kunjungan tersebut dalam rangka kegiatan Summer Course Asia University, Taiwan ke Undip, Semarang yang bertema Indonesia Culture & Language. Kegiatan ini merupakan salah satu hasil kunjungan balasan dari Asia University, Taiwan atas kunjungan mahasiswa International Undergraduate Program FEB Undip ke Asia University, Taiwan beberapa bulan yang lalu. Dr. Suharnomo dan Amie Kusumawardhani, Ph.D. selaku Dekan dan Wakil Dekan Komunikasi dan Bisnis menyambut dengan senang atas kunjungan mahasiswa Asia University di FEB Undip. Dalam acara kunjungan ini mahasiswa Asia University diajak untuk mengikuti kegiatan perkuliahan singkat dari Dosen Departemen Manajemen FEB, Erman Deny A., SE., MM. yang mengisi dengan tema Management of Indonesia. Selanjutnya, agenda yang dilaksanakan adalah pengenalan lembaga kemahasiswaan dan tour the campus FEB Undip yang memperkenalkan selayang pandang dan fasilitas yang ada di kampus FEB Undip. Di hari kedua, mahasiswa mengikuti kelas International Economics yang diisi oleh Direktur International Office FEB Undip, Jaka Aminata, SE., MA., PhD. diteruskan dengan perkenalan budaya Semarang kepada mahasiswa Asia University yaitu dengan mengajak mahasiswa untuk membatik sendiri dengan memanggil tentor dari Kampung Batik, Semarang. Mereka cukup menikmati acara tersebut terlihat dari ketekunan mereka dalam membatik. Mahasiswa Asia University meyampaikan terima kasih atas pelayanan terbaik dari FEB Undip kepada mereka.
Simposium Nasional Keuangan dan Perbankan II Menghadirkan OJK dan Pembicara Asing
Departemen Manajemen Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Diponegoro menghelat Simposium Nasional Keuangan dan Perbankan yang dilaksanakan pada Selasa, 1 Agustus 2017. Acara yang dilaksanakan di Hall Gedung C FEB Undip, Tembalang menghadirkan pembicara dari instansi dan akademisi. Roberto Akyuwen (OJK) yang menjadi pembicara awal mempresentasikan tentang “Prospek Peningkatan Akses Pembiayaan Bagi UMKM Melalui Pemanfaatan Fintech”. Roberto menjelaskan bahwa saat ini penggunaan gadget untuk layanan keuangan belum maksimal, padahal potensi dan dampak ekonominya sangat luar biasa untuk teknologi informasi keuangan karena dapat mempercepat transaksi, putaran uang, akumulasi kapital. Pembicara yang bekerja sebagai Analis Eksekutif Senior Bidang Pengembangan Otoritas Jasa Keuangan menyampaikan bahwa layanan Fintech (Financial Technology) 2.0 saat ini hanya semata-mata alat layanan perusahaan jasa keuangan untuk meningkatkan pelayanan kepada konsumen, misal. ATM, Mobile Banking, Internet Banking. Sampai saat ini sudah berkembang Fintech 3.0 yaitu pinjam meminjam uang berbasis teknologi informasi, bank tanpa kantor. “Kalau mau minjem pergi ke website, gak usah ke kantor bank, itu sudah ada”, ujarnya. Roberto juga memaparkan bahwa Fintech 3.0 diatur oleh OJK dengan menerbitkan POJK No.77/POJK.01/2016 tentang layanan pinjam meminjam uang berbasis teknologi informasi. Peraturan ini untuk me-registrasi perusahaan – perusahaan yang menyediakan layanan keuangan tanpa kantor. “Saat ini sudah ada 160 lebih perusahaan yang tergabung dalam asosiasi, OJK sudah membentuk direktorat khusus untuk pengawasan perusahaan – perusahaan tersebut”, sampainya. Roberto menjelaskan peran Fintech dalam mengisi relung untuk pembiayaan UMKM dengan menyontohkan perusahaan layanan keuangan tanpa kantor www.tanifund.com. Perusahaan tanifund menggabungkan antara e-commerce dan pembiayaan. Tanifund menggunakan modal investasi dengan memberikan pinjaman kepada petani untuk membeli benih, pupuk, tenaga ahli, tenaga pendamping, serta uang saku sampai masa panen. Pada saat panen, tanifund yang sudah memiliki jejaring pemasaran yang luas, memasarkan hasil panen. “Petani tidak mikir nyicil, petani hanya bekerja, panenan langsung diambil di kebunnya”, tuturnya. Petani bisa mendapatkan keuntungan dari Fintech ini, pola yag paling lazim dilaporkan ke OJK dengan mendapatkan margin keuntungan netto profit 40% Petani, 40% investor dan 20% perusahaan. Dalam acara simposium ini juga menghadirkan pembicara asing Prof. Chotibak (Pab) Jotikasthira. Prof. Pab yang menjadi Associate Professor di Southern Methodist University memaparkan tentang “Accounting Rules, Trading Incentives, and Systemic Risk”.
FEB Undip Mendapatkan Hibah Studio Musik dari IKAFE Undip
Hari Jumat (21/07) Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Diponeoro (FEB Undip) mendapatkan bantuan fasilitas Studio Musik Kampus. Peresmian tersebut dihadiri oleh Pimpinan Fakultas yang diwakili oleh Wakil Dekan Bidang Komunikasi dan Bisnis, Amie Kusumawardhani, Ph.D., beserta staf, Direktur BRI Randi Anto, perwakilan alumni serta mahasiswa. Studio Musik Kampus ini terletak di lantai dasar Gedung Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM) FEB Undip. Kegiatan ini terlaksana atas peran serta dari Ikatan Alumni FE (IKAFE) Undip. IKAFE Undip menghibahkan peralatan musik berupa amplifier, mixer dan desain interior studio. Diharapkan dengan adanya studio ini dapat lebih meningkatkan kreatifitas mahasiswa di bidang seni musik.
FEB Undip Menerima Kunjungan Fakultas Ekonomi Universitas Riau
Jumat, 21 Juli 2017 Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Diponegoro (FEB Undip) menerima kunjungan dari Fakultas Ekonomi Universitas Riau (FE UR). Kegiatan kunjungan ini merupakan studi banding dari Fakultas Ekonomi Universitas Riau dalam rangka saling tukar informasi berkaitan dengan kegiatan bidang riset, publikasi jurnal, seminar internasional, sistem informasi akademik dan model pembelajaran yang diterapkan di FEB Undip. Dekan FEB, Dr. Suharnomo menerima kunjungan ini di Ruang Sidang Senat FEB Undip, Gedung Dekanat. FE UR yang menghadiri kegiatan ini adalah Dekan, Wakil Dekan I dan Wakil Dekan II.
Tim Ekspedisi 7 Summit Indonesia FEPALA Melakukan Pendakian Gunung Kerinci, Sumatera
Bertempat di lapangan Fakultas Ekonomika dan Bisnis Undip digelar upacara pemberangkatan tim Ekspedisi 7 Summit Indonesia dan pengembaran anggota muda FEPALA pada hari Senin, 24 Juli 2017. Upacara dibuka dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya kemudian dilanjutkan dengan pemberian sambutan oleh Bp. I Made Bayu Dirgantara SE., MM selaku Pembina UKM-F FEPALA dan Ibu Dra. Amie Kusumawardhani, MSc, PhD selaku Wakil Dekan Komunikasi dan Bisnis yang turut hadir dalam upacara ini. Pemberangkatan tim ekspedisi ditandai dengan penyerahan miniatur warak ngendok kepada tim eksepedisi yaitu Fat Fauzi Pratama (S1 Manajemen ’13), Giki Ganda Putra (S1 Manajemen ’13), M Rahmatullah (D3 Perpajakan ’15), serta Alvian Asrori (D3 Perpajakan ’15). Miniatur warak ngendok itu nantinya akan dipamerkan oleh tim ekspedisi di puncak gunung tertinggi di Pulau Sumatera, Gunung Kerinci dengan ketinggian 3.805 mdpl sebagai upaya pengenalan budaya Semarang kepada para pendaki Gunung Kerinci serta masyarakat umum lainnya. Ekspedisi Gunung Kerinci ini merupakan kegiatan pengabdian FEPALA dengan mengusung konsep sosial, ekonomi dan budaya yang menjadi langkah awal terwujudnya project besar FEPALA yaitu Ekspedisi 7 Summit Indonesia. Tim ekspedisi akan turun langsung ke alam dan masyarakat dalam mengamati kondisi sosial-ekonomi penduduk sekitar Gunung Kerinci yang nantinya akan dikaji bersama dan memperkenalkan Budaya Semarang di Pulau Sumatera khususnya di Kawasan Gunung Kerinci. Tim ekspedisi akan berangkat menuju Pulau Sumatera selepas upacara selesai serta anggota muda akan berangkat menuju kota Malang pada malam harinya untuk melaksanakan pengembaraan di Gunung Arjuna-Welirang. Pengembaraan anggota muda merupakan kegiatan pembelajaran keilmuan hutan gunung tingkat lanjutan bagi anggota muda FEPALA dengan mengusung konsep Zero Waste Mountainering dan Anti Vandalisme serta penerapan ilmu survival yang bertujuan untuk meningkatkan kepedulian mahasiswa di bidang lingkungan hidup serta pelestarian alam. Upacara ditutup dengan penampilan Ketua UKM Merpati Putih yang notabene anggota FEPALA dengan atraksi pematahan bata hebel lalu dilanjutkan dengan menyanyikan Mars FEPALA dan tak lupa dilakukan doa bersama yang dipimpin oleh Kepala Suku FEPALA.
Nugroho SBM : Menyambut Perppu No 1/2017
‘’Banyak pihak seperti pengamat yang juga menolak Perppu ini dengan berbagai alasan. Namun seyogianya Perppu ini disambut secara positif. Ada beberapa alasan.’’ ADA lelucon soal rahasia bank di Swiss. Konon ada penguasa di zaman Orde Baru yang marah karena mendapat kabar bawahannya menyimpan uang di bank di Swiss karena bank-bank di Swiss memang terkenal sangat menjaga kerahasiaan nasabahnya. Maka sang penguasa itu terbang ke Swiss untuk menemui direktur utama bank tempat bawahannya menyimpan uang lengkap dengan pasukan pengawal pribadinya. Mula-mula sang penguasa bertanya dengan sopan untuk mengklarifikasi kabar soal bawahannya yang menyimpan uang di situ, tetapi sang direktur bank tak mau menjawab. Akhirnya habislah kesabaran sang penguasa. Ia lalu menyuruh pengawal pribadinya menodongkan senjata ke arah sang direktur bank dan kembali ia bertanya tentang simpanan bawahannya di bank tersebut. Sang direktur tetap tak mau menjawab. Akhirnya sang penguasa berkata: ‘’Oh, ya sudah, saya akan ikut menyimpan uang saya (hasil korupsi) di sini..’’ Lelucon yang menggambarkan betapa ketatnya bank-bank di Swiss memegang rahasia nasabahnya tersebut sekarang ini sudah tidak akan terjadi lagi. Sebab Swiss termasuk negara yang tergabung dalam negara-negara G 20 yang menerapkan Konvensi Internasional tentang Pertukaran Informasi Secara Otomatis (Authomatic Exchange Information). Negara-negara G 20 sudahmenetapkan konvensi internasional ini sejak April 2009. Tetapi parlemen Swiss baru menyetujuinya pada 2015 dan meratifikasi konvensi internasional tersebut pada 2016. Tujuan konvensi internasional tentang Pertukaran Informasi Secara Otomatis yang diprakarsai oleh negaranegara G 20 lebih ditujukan untuk mencegah para penghindar pajak yang menyimpan uangnya di bank. Bank memang punya komitmen untuk menjaga kerahasiaan nasabahnya. Negara-negara G 20 menyadari bahwa penghindaran pajak dengan cara menyimpan uang di bank yang kemudian dijaga kerahasiaannya oleh bank menimbulkan ketidakadilan. Pertama, ketidakadilan di internal negara di mana sang penghindar pajak berada. Tidak adil karena pemerintah atau negara yang bersangkutan mestinya bisa menerima pendapatan dari pajak yang lebih besar dan bisa digunakan untuk program prorakyat seperti pengentasan kemiskinan dan pembangunan infrastruktur. Kedua, ketidakadilan eksternal atau global. Artinya jika hanya sebagian negara yang menerapkan keterbukaan informasi maka si penggelap pajak akan menyimpan uangnya di negra-negara yang perbankannya masih menerapkan kerahasiaan data nasabah. Tren Positif Pemerintah Indonesia, sebagai anggota G 20, tampaknya mengikuti tren positif ini dengan mengeluarkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perppu) Nomer 1 Tahun 2017 tentang Akses Informasi Keuangan untuk Kepentingan Perpajakan. Dengan Perppu ini maka Direktorat Jenderal Pajak Kementerian Keuangan bisa mengakses data keuangan nasabah di bank-bank dan lembaga keuangan lainnya untuk kepentingan data perpajakan. Perppu ini telah menimbulkan kekhawatiran khususnya dari pihak bank dan lembaga keuangan lainnya. Alasannya, nasabah akan khawatir rahasia keuangannya akan terbuka dan melarikan atau mengambil uangnya dari bank. Padahal jumlah dana pihak ketiga atau dana nasabah di bank di Indonesia sekarang ini mencapai Rp 4.700 triliun. Banyak pihak seperti pengamat yang juga menolak Perppu ini dengan berbagai alasan. Namun seyogianya Perppu ini disambut secara positif. Ada beberapa alasan. Pertama, Perppu ini hendaknya dipandang sebagai kelanjutan dari program amnesti pajak yang erhasil menghimpun dana sebesar Rp 147 triliun. Meskipun ini jauh dari target yaitu Rp 1.000 triliun tetapi dengan persiapan yang mepet dan sarana dan prasarana terbatas maka hasil Rp 147 triliun itu merupakan hasil yang luar biasa. Dengan Perppu Nomor 1 Tahun 2017 maka Indonesia bisa mengakses data orang Indonesia yang masih ‘’tercecer’’ yang menyimpan uangnya di luar negeri. Kedua, nasabah di bank-bank di Indonesia juga tidak akan melarikan uangnya ke luar negeri karena semua negara sudah menerapkan keterbukaan informasi keuangan yang tujuannya untuk mencegah penghindaran pajak. Bahkan Swiss yang selama ini menerapkan kerahasiaan finansial tertinggi bagi nasabah bank di sana -seperti disinggung di awal tulisan ini, sudah mengakhiri era kerahasiaan bank. Jadi nasabah tak bisa melarikan dananya ke manapun maka bank tidak perlu khawatir dengan pelarian dana nasabah. Ketiga, dana pihak ketiga yang sekarang ini disimpan di bank-bank dan lembaga keuangan lainnya di Indonesia sudah beres secara hukum karena adanya program amnesti pajak. Semua dana sudah dilaporkan dan sudah menjadi ‘’bersih’’ karena sudah dilaporkan dan dibayar tebusannya. Tak ada alasan kekhawatiran nasabah untuk memindahkan dananya akibat Perppu Nomer 1 Tahun 2017. Keempat, akses kepada informasi keuangan nasabah di bank dan lembaga keuangan lainnya untuk kepentingan perpajakan bukanlah sesuatu yang unik untuk Indonesia saja. Semua negara secara universal akan menerapkan prinsip ini. Apalagi Indonesia adalah anggota G 20 yang sudah menerapkan akses keterbukaan informasi keuangan untuk perpajakan. Jadi mau tidak mau Indonesia juga harus menerapkannya. Jika tidak menerapkan tentu Indonesia akan dikucilkan dari pergaulan internasioanl. Dan itu sesuatu yang sangat merugikan. (21) — Dr Nugroho SBM MSi, Dosen Ekonomi Moneter Fakultas Ekonomika dan Bisnis Undip Semarang (sumber : suaramerdeka)
TICMI Gandeng FEB Undip Untuk Mengembangkan Profesi Pasar Modal Indonesia
Selasa (23/05/2017), bertempat di Hall Gedung C Lantai 4 Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Diponegoro (FEB Undip), dilaksanakan penandatanganan perjanjian kerjasama antara Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Diponegoro (FEB Undip) dengan The Indonesian Capital Market Institute (TICMI). TICMI adalah anak perusahaan dari Bursa Efek Indonesia yang fokus dalam bidang pendidikan dan pelatihan pasar modal yang sekaligus menyelenggarakan ujian sertifikasi profesi pasar modal di Indonesia. Hadir dalam acara ini Hamdi Hasyarbaini (Director Surveillance and Compliance IDX), Mety Yusantiati (Director TICMI), Fanny Rifqi (Kepala IDX Semarang), Amie Kusumawardhani, Ph.D. (Wakil Dekan Bidang Komunikasi dan Bisnis FEB Undip), Dr. Harjum Muharam (Ka. Dept. Manajemen FEB Undip) dan Staf pengajar FEB Undip. Kerjasama ini bertujuan untuk mengembangkan profesi dan karir dalam bidang pasar modal di kampus melalui short course dan sertifikasi bagi mahasiswa FEB Undip. Program sertifikasi WPPE (Wakil Pedagang Perantara Efek) dari TICMI, pertama kali dibuka di FEB Undip, Semarang memberikan kemudahan bagi mahasiswa dalam memperoleh sertifikasi pasar modal. Dengan adanya program ini diharapkan disaat mahasiswa lulus sudah memiliki bekal untuk terjun secara profesional di pasar modal. Penandatangan perjanjian kerjasama dilakukan oleh Dekan FEB Undip, Dr. Suharnomo dengan Direktur TICMI, Mety Yusantiati dan disaksikan oleh Hamdi Hasyarbaini dan Prof. Sugeng Wahyudi.
