Uncategorized

Riwayat Berdirinya Universitas Diponegoro

Kegiatan Fakultas

Live Streaming Pidato Ilmiah Dies Natalis FEB Undip ke-59

Link : https://youtu.be/bDqgtldWArQ Dalam rangka Dies Natalis FEB Undip ke-59, FEB Undip akan menghelat Pidato Ilmiah Dies Natalis. Narasumber pada acara pidato ilmiah ini: 1. Menristekdikti RI: Prof. Moh. Nasir, Ph.D. 2. Rektor Universitas Nasional: Dr. El Amri Bermawi Putra 3. Cyber Edu Inkor: Prof. Jang Youn Cho, Ph.D.

Visiting Professor University Paris 13 – Sorbonne Paris Cite, France

Dalam kerangka kerjasama internasional, Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Diponegoro menerima kunjungan Profesor dari University Paris 13 Sorbonne Paris Cite, France.  Kunjungan telah terlaksana dari tanggal 19 – 28 Agustus 2017 dikemas secara interaktif dalam bentuk kuliah umum, workshop, menyajikan isu-isu global terkini seputar bisnis, manajemen, strategi, dan metodologi penelitian. Selain kuliah umum dan workshop, dalam kegiatan visiting professor terlaksana juga pertemuan dengan para pejabat Fakultas dan tingkat Universitas untuk mendiskusikan kerjasama dengan International and Interdisciplinary Association for Decision (A2ID),  yakni asosiasi akademis yang mempromosikan kerjasama antara universitas di semua disiplin akademis pada tingkat pendidikan tinggi: Gelar Sarjana, Master dan Ph.D. Dalam wawancara bersama Jaka Aminata (Direktur International Office FEB Undip), Prof. Ali Smida selaku President of the International and Interdisciplinary Association for Decision – the A2ID (29/08/2017) menyampaikan berbagai bentuk kerjasama yang akan dilakukan dengan  FEB Undip. Yang disusun dalam langkah-langkah seperti : Mengembangkan kerjasama penelitian antar universitas dan antar disiplin ilmu Mendorong pertukaran program pendidikan antar universitas Memfasilitasi pengembangan pertukaran mahasiswa Mengembangkan gelar double degree universitas dari berbagai negara. Semoga di kemudian hari kerja sama akan terus berlanjut dan menghasilkan output & outcome yang nyata dan berguna bagi kemajuan Universitas Diponegoro, khususnya Fakultas Ekonomika dan Bisnis.

Simposium Nasional Keuangan dan Perbankan II Menghadirkan OJK dan Pembicara Asing

Departemen Manajemen Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Diponegoro menghelat Simposium Nasional Keuangan dan Perbankan yang dilaksanakan pada Selasa, 1 Agustus 2017. Acara yang dilaksanakan di Hall Gedung C FEB Undip, Tembalang menghadirkan pembicara dari instansi dan akademisi. Roberto Akyuwen (OJK) yang menjadi pembicara awal mempresentasikan tentang “Prospek Peningkatan Akses Pembiayaan Bagi UMKM Melalui Pemanfaatan Fintech”. Roberto menjelaskan bahwa saat ini penggunaan gadget untuk layanan keuangan belum maksimal, padahal potensi dan dampak ekonominya sangat luar biasa untuk teknologi informasi keuangan karena dapat mempercepat transaksi, putaran uang, akumulasi kapital. Pembicara yang bekerja sebagai Analis Eksekutif Senior Bidang Pengembangan Otoritas Jasa Keuangan menyampaikan bahwa layanan Fintech (Financial Technology) 2.0 saat ini hanya semata-mata alat layanan perusahaan jasa keuangan untuk meningkatkan pelayanan kepada konsumen, misal. ATM, Mobile Banking, Internet Banking. Sampai saat ini sudah berkembang Fintech 3.0 yaitu pinjam meminjam uang berbasis teknologi informasi, bank tanpa kantor. “Kalau mau minjem pergi ke website, gak usah ke kantor bank, itu sudah ada”, ujarnya. Roberto juga memaparkan bahwa Fintech 3.0 diatur oleh OJK dengan menerbitkan POJK No.77/POJK.01/2016 tentang layanan pinjam meminjam uang berbasis teknologi informasi. Peraturan ini untuk me-registrasi perusahaan – perusahaan yang menyediakan layanan keuangan tanpa kantor. “Saat ini sudah ada 160 lebih perusahaan yang tergabung dalam asosiasi, OJK sudah membentuk direktorat khusus untuk pengawasan perusahaan – perusahaan tersebut”, sampainya. Roberto menjelaskan peran Fintech dalam mengisi relung untuk pembiayaan UMKM dengan menyontohkan perusahaan layanan keuangan tanpa kantor www.tanifund.com. Perusahaan tanifund menggabungkan antara e-commerce dan pembiayaan. Tanifund menggunakan modal investasi dengan memberikan pinjaman kepada petani untuk membeli benih, pupuk, tenaga ahli, tenaga pendamping, serta uang saku sampai masa panen. Pada saat panen, tanifund yang sudah memiliki jejaring pemasaran yang luas, memasarkan hasil panen. “Petani tidak mikir nyicil, petani hanya bekerja, panenan langsung diambil di kebunnya”, tuturnya. Petani bisa mendapatkan keuntungan dari Fintech ini, pola  yag paling lazim dilaporkan ke OJK dengan mendapatkan margin keuntungan netto profit 40% Petani, 40% investor dan 20% perusahaan. Dalam acara simposium ini juga menghadirkan pembicara asing Prof. Chotibak (Pab) Jotikasthira. Prof. Pab yang menjadi Associate Professor di Southern Methodist University memaparkan tentang “Accounting Rules, Trading Incentives, and Systemic Risk”.

Nugroho SBM : Menyambut Perppu No 1/2017

‘’Banyak pihak seperti pengamat yang juga menolak Perppu ini dengan berbagai alasan. Namun seyogianya Perppu ini disambut secara positif. Ada beberapa alasan.’’ ADA lelucon soal rahasia bank di Swiss. Konon ada penguasa di zaman Orde Baru yang marah karena mendapat kabar bawahannya menyimpan uang di bank di Swiss karena bank-bank di Swiss memang terkenal sangat menjaga kerahasiaan nasabahnya. Maka sang penguasa itu terbang ke Swiss untuk menemui direktur utama bank tempat bawahannya menyimpan uang lengkap dengan pasukan pengawal pribadinya. Mula-mula sang penguasa bertanya dengan sopan untuk mengklarifikasi kabar soal bawahannya yang menyimpan uang di situ, tetapi sang direktur bank tak mau menjawab. Akhirnya habislah kesabaran sang penguasa. Ia lalu menyuruh pengawal pribadinya menodongkan senjata ke arah sang direktur bank dan kembali ia bertanya tentang simpanan bawahannya di bank tersebut. Sang direktur tetap tak mau menjawab. Akhirnya sang penguasa berkata: ‘’Oh, ya sudah, saya akan ikut menyimpan uang saya (hasil korupsi) di sini..’’ Lelucon yang menggambarkan betapa ketatnya bank-bank di Swiss memegang rahasia nasabahnya tersebut sekarang ini sudah tidak akan terjadi lagi. Sebab Swiss termasuk negara yang tergabung dalam negara-negara G 20 yang menerapkan Konvensi Internasional tentang Pertukaran Informasi Secara Otomatis (Authomatic Exchange Information). Negara-negara G 20 sudahmenetapkan konvensi internasional ini sejak April 2009. Tetapi parlemen Swiss baru menyetujuinya pada 2015 dan meratifikasi konvensi internasional tersebut pada 2016. Tujuan konvensi internasional tentang Pertukaran Informasi Secara Otomatis yang diprakarsai oleh negaranegara G 20 lebih ditujukan untuk mencegah para penghindar pajak yang menyimpan uangnya di bank. Bank memang punya komitmen untuk menjaga kerahasiaan nasabahnya. Negara-negara G 20 menyadari bahwa penghindaran pajak dengan cara menyimpan uang di bank yang kemudian dijaga kerahasiaannya oleh bank menimbulkan ketidakadilan. Pertama, ketidakadilan di internal negara di mana sang penghindar pajak berada. Tidak adil karena pemerintah atau negara yang bersangkutan mestinya bisa menerima pendapatan dari pajak yang lebih besar dan bisa digunakan untuk program prorakyat seperti pengentasan kemiskinan dan pembangunan infrastruktur. Kedua, ketidakadilan eksternal atau global. Artinya jika hanya sebagian negara yang menerapkan keterbukaan informasi maka si penggelap pajak akan menyimpan uangnya di negra-negara yang perbankannya masih menerapkan kerahasiaan data nasabah. Tren Positif Pemerintah Indonesia, sebagai anggota G 20, tampaknya mengikuti tren positif ini dengan mengeluarkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perppu) Nomer 1 Tahun 2017 tentang Akses Informasi Keuangan untuk Kepentingan Perpajakan. Dengan Perppu ini maka Direktorat Jenderal Pajak Kementerian Keuangan bisa mengakses data keuangan nasabah di bank-bank dan lembaga keuangan lainnya untuk kepentingan data perpajakan. Perppu ini telah menimbulkan kekhawatiran khususnya dari pihak bank dan lembaga keuangan lainnya. Alasannya, nasabah akan khawatir rahasia keuangannya akan terbuka dan melarikan atau mengambil uangnya dari bank. Padahal jumlah dana pihak ketiga atau dana nasabah di bank di Indonesia sekarang ini mencapai Rp 4.700 triliun. Banyak pihak seperti pengamat yang juga menolak Perppu ini dengan berbagai alasan. Namun seyogianya Perppu ini disambut secara positif. Ada beberapa alasan. Pertama, Perppu ini hendaknya dipandang sebagai kelanjutan dari program amnesti pajak yang erhasil menghimpun dana sebesar Rp 147 triliun. Meskipun ini jauh dari target yaitu Rp 1.000 triliun tetapi dengan persiapan yang mepet dan sarana dan prasarana terbatas maka hasil Rp 147 triliun itu merupakan hasil yang luar biasa. Dengan Perppu Nomor 1 Tahun 2017 maka Indonesia bisa mengakses data orang Indonesia yang masih ‘’tercecer’’ yang menyimpan uangnya di luar negeri. Kedua, nasabah di bank-bank di Indonesia juga tidak akan melarikan uangnya ke luar negeri karena semua negara sudah menerapkan keterbukaan informasi keuangan yang tujuannya untuk mencegah penghindaran pajak. Bahkan Swiss yang selama ini menerapkan kerahasiaan finansial tertinggi bagi nasabah bank di sana -seperti disinggung di awal tulisan ini, sudah mengakhiri era kerahasiaan bank. Jadi nasabah tak bisa melarikan dananya ke manapun maka bank tidak perlu khawatir dengan pelarian dana nasabah. Ketiga, dana pihak ketiga yang sekarang ini disimpan di bank-bank dan lembaga keuangan lainnya di Indonesia sudah beres secara hukum karena adanya program amnesti pajak. Semua dana sudah dilaporkan dan sudah menjadi ‘’bersih’’ karena sudah dilaporkan dan dibayar tebusannya. Tak ada alasan kekhawatiran nasabah untuk memindahkan dananya akibat Perppu Nomer 1 Tahun 2017. Keempat, akses kepada informasi keuangan nasabah di bank dan lembaga keuangan lainnya untuk kepentingan perpajakan bukanlah sesuatu yang unik untuk Indonesia saja. Semua negara secara universal akan menerapkan prinsip ini. Apalagi Indonesia adalah anggota G 20 yang sudah menerapkan akses keterbukaan informasi keuangan untuk perpajakan. Jadi mau tidak mau Indonesia juga harus menerapkannya. Jika tidak menerapkan tentu Indonesia akan dikucilkan dari pergaulan internasioanl. Dan itu sesuatu yang sangat merugikan. (21) — Dr Nugroho SBM MSi, Dosen Ekonomi Moneter Fakultas Ekonomika dan Bisnis Undip Semarang (sumber : suaramerdeka)

CSR BRI Membantu Pembangunan Renovasi Mushola Magister Manajemen FEB Undip

Pada hari Sabtu, 13 Mei 2017 jam 08.30 WIB bertempat di Musholla “Assalam” , Direktur  Human Capital & Asset Management Bank BRI meresmikan dan menserah terimakan renovasi musholla “Assalam“ kepada Ketua Program Studi Magister Manajemen Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Diponegoro. Renovasi Musholla Assalam ini merupakan hasil kerjasama antara  BRI Peduli melalui Program Indonesia Taqwa dengan Program Magister Manajemen Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Diponegoro. Dana yang dibutuhkan untuk melakukan renovasi sebesar Rp. 290.000.000,- di tanggung oleh BRI Peduli. Acara tersebut di hadiri oleh beberapa Jajaran Pimpinan Wilayah dan Cabang Bank BRI Semarang, Perwakilan dan Pimpinan Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Diponegoro, Pimpinan, Staff Ahli dan Staff Administrasi, juga pengurus Himpunan Mahasiswa Program Studi Magister Manajemen (HIMMA) Program Magister Manajemen Universitas Diponegoro . Acara di mulai dengan pembacaan ayat suci Al Qur’an, dilanjutkan dengan sambutan dari Pimpinan BRI dalam hal ini di wakili oleh Bapak Drs. Randi Anto, MBA selaku  Direktur  Human Capital & Asset Management dan sambutan dari Pimpinan Fakultas Ekonomika dan Bisnis dalam hal ini diwakili oleh Dr. Susilo Toto Raharjo, MT selaku  Ketua Program Studi Magister Manajemen Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Diponegoro. Jam 10.30 WIB acara di tutup dengan pembacaan Doa serta  penyerahan bantuan secara simbolik dan penandatanganan Prasasti. (Rtn.Idr)

FEB Undip Mendapat Kunjungan dari SMA Muhammadiyah 25 Pamulang dan SMA Islam Darussalam Bekasi

Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Diponegoro (FEB Undip) menerima kunjungan dari SMA Muhammadiyah 25 dan  SMA Islam Darussalam Bekasi pada Rabu, 3 Mei 2017 di Auditorium Laboratorium Kewirausahaan FEB Undip. Kunjungan ini dihadiri oleh sekitar 200an siswa dari SMA Muhammadiyah 25 dan  SMA Islam Darussalam Bekasi beserta guru pendamping. Hadir Amie Kusumawardhani, Ph.D. (Wakil Dekan Bidang Komunikasi dan Bisnis) FEB Undip yang menjadi narasumber di acara tersebut. Dalam kegiatan tersebut Amie Kusumawardhani, Ph.D. mengulas profil FEB Undip melalui pemutaran video profil FEB Undip. Dalam paparannya Amie Kusumawardhani, Ph.D. menyampaikan bahwa FEB Undip menjadi pilihan yang tepat untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang universitas. Amie Kusumawardhani, Ph.D.  juga memaparkan tentang sejarah FEB Undip, jalur masuk penerimaan mahasiswa baru FEB Undip, Program Studi yang ditawarkan, fasilitas – fasilitas yang dimiliki, peluang kerja setelah lulus dari FEB Undip. Acara ini ditutup dengan serah terima cendera mata dari masing – masing instansi dan diakhiri dengan foto bersama.

Dr. Suharnomo Mengisi Kuliah Tamu “Manajemen Indonesia “ di Universitas Ternama Eropa

Dosen Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Diponegoro (FEB Undip) Dr. Suharnomo memberikan kuliah dosen tamu di universitas ternama Eropa. Kunjungan yang telah dilaksanakan pada tanggal 8 – 19 April 2017 bertujuan untuk meningkatkan international recognition baik FEB maupun Undip, sebagai international exposure melalui pertukaran mahasiswa (reciprocal). Dr. Suharnomo melaksanakan kuliah tamu di Universitas Sorbonne Paris13 dan European Business School, Paris. Kuliah tamu yang membahas tentang Manajemen Indonesia diambil sesuai buku Manajemen Indonesia yang telah disusun olehnya. Dari kuliah tamu yang telah dilaksanakan menjadikan Universitas Sorbonne Paris13 tertarik dan berencana akan menerbitkan buku tersebut dalam versi bahasa inggris yang akan diedarkan di Perancis. Selain mengisi kuliah tamu di negara Perancis, Dr. Suharnomo yang menjabat sebagai Dekan FEB Undip juga mengisi kuliah tamu di Universidad Carlos III of Madrid, Spanyol. Universidad Carlos III of Madrid adalah universitas terbesar di Madrid, Spanyol yang terakreditasi oleh AACSB dan AMBA. Kunjungan ini juga sebagai kunjungan balasan yang telah dilakukan oleh Universidad Carlos III of Madrid ke FEB Undip. Dalam kunjungan kuliah tamu tersebut, Dr. Suharnomo yang mewakili FEB Undip untuk melaksanakan penandatanganan MoU double degree jenjang Strata 1, Strata 2 dan Doktor serta pelaksanaan credit transfer system dengan Universitas Sorbonne Paris13 dan Universidad Carlos III of Madrid. “Sangat bagus dan keren, FEB Undip sangat diapresiasi dan dikenal sebagai publik university dari Indonesia. FEB Undip telah diakui dalam kualitas pendidikan oleh universitas di dunia atas prestasi yang telah dicapai selama ini”, ungkapnya. Hingga saat ini, FEB Undip telah melaksanakan MoU double degree dengan Universitas Sorbonne Paris13, Universidad Carlos III of Madrid, Curtin University Australia, Australia Western University, Saxion University Belanda, Haaga Helia Finlandia dan lain – lain. “Kita berharap mahasiswa Kelas International Undergraduate Progam yang sudah menginjak semester 5 keatas dapat melaksanakan double degree atau credit transfer system di universitas – universitas tersebut”, jelasnya.

Kuliah Umum Financial Technology Bersama Direktur Eksekutif Bank Indonesia

Menjamurnya financial technology (fintech) dewasa ini dikarenakan pergeseran teknologi keuangan, dari yang semula berpusat di sisi bank beralih saat ini ke sisi penguna (customer driven). Hal ini dikatakan oleh Eni V. Panggabean, PhD. (Direktur Eksekutif Departemen Kebijakan dan Pengawasan Sistem Pembayaran Bank Indonesia) di acara kuliah umum untuk mahasiswa Program S1, S2 dan S3 Fakultas Ekonomika dan Bisnis Undip, Kamis 27 April 2017 lalu. Menurut alumni FE Undip angkatan 81 ini Fintech merupakan fenomena perpaduan antara teknologi dengan fitur keuangan yang mengubah model bisnis dan melemahnya barrier to entry. Bisnis transportasi online, e-commerce dan crowd funding merupakan beberapa contoh  penerapan fintech. Kehadiran fintech berpotensi memberikan manfaat ke berbagai stakeholder (konsumen, perusahaan dan lain-lain) dan bagi ekonomi. Perusahaan fintech  juga sering disebut dengan startup karena rata-rata merupakan pemain baru dalam industry. Sampai saat ini terdapat tidak kurang dari 142 perusahaan fintech teridentifikasi beroperasi di Indonesia, yang mayoritas untuk kategori payments, clearing dan settlement. Eni menyatakan bahwa dalam menghadapi  tren integrasi teknologi dan keuangan ini, otoritas  perlu mengambil sikap antara lain menjaga keseimbangan peran antara sektor keuangan formal dan non formal, memitigasi resiko melalui regulasi yang tepat tanpa mematikan laju inovasi di sektor  jasa keuangan.

Kuliah Umum : Peran Pemerintah dan Kebijakan Moneter dalam Pengembangan Keuangan Inklusif

Pada 13/04 Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Diponegoro (FEB Undip) mengadakan Kuliah Umum : Peran Pemerintah dan Kebijakan Moneter dalam Pengembangan Keuangan Inklusif. Acara yang dihelat oleh Bidang Riset dan Inovasi FEB Undip ini dilaksanakan di Ruang Sidang Utama Lantai 2, Gd. Dekanat FEB Undip. Hadir sebagai narasumber kuliah umum Dr. Muh Cholifihani, SE., MA. yang menjabat sebagai Direktur Jasa Keuangan dan BUMN Bappenas. Cholifihani memaparkan faktor – faktor pendorong rendahnya inklusif keuangan adalah kurangnya edukasi keuangan, tingginya biaya administrasi, kejangkauan lokasi tempat tinggal masyarakat terhadap lembaga keuangan formal dan tata operasional yang rumit. “Hanya 22% penduduk dewasa di Indonesia memahami produk perbankan dan presentase lebih rendah untuk produk jasa keuangan lainnya”, ungkapnya. Cholifiani juga menyampaikan, target pemerintah Indonesia bahwa pada tahun 2019 adalah 75% jumlah penduduk dewasa memiliki akses layanan keuangan pada lembaga keuangan formal melalui 5 pilar. Pilar pertama, Edukasi keuangan, Pilar kedua, Hak properti masyarakat, Pilar ketiga, Fasilitas intermediasi dan saluran distribusi keuangan, Pilar keempat, Pelayanan keuangan pada sektor pemerintah, dan Pilar kelima, Perlindungan konsumen. Kuliah umum yang dipenuhi oleh peserta dari dosen, mahasiswa S1, S2, dan S3 FEB Undip dilanjutkan dengan tanya jawab dan ditutup dengan pemberian cendera mata untuk pembicara.

FEB Undip Mendapatkan Kunjungan dari Siswa SMA Citra Islami Banten

Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Diponegoro mendapatkan kunjungan dari SMA Citra Islami – Yayasan Islamic Village, Banten. Kunjungan berlangsung pada hari Rabu (12/4), dihadiri oleh sekitar 70 orang siswa jurusan IPS SMA Citra Islami. Pembina dan siswa SMA Citra Islami tiba di kampus FEB Undip pukul 10.00 WIB. Rombongan diterima oleh Kepala Bagian Tata Usaha FEB Undip Drs. Moh. Asrifan bersama Kasubbag Akademik di Ruang Sidang Utama FEB Undip. Acara diawali dengan sambutan selamat datang oleh Kabag Tata Usaha FEB Undip yang menyampaikan selamat datang di kampus FEB Undip yang kemudian dilanjutkan dengan sambutan Pembina dari SMA SMA Citra Islami. Pada sesi berikutnya, siswa SMA Citra Islami menyaksikan pemutaran video profil FEB Undip dan dilanjutkan dengan pengenalan kampus FEB Undip dibawakan oleh Kasubbag Akademik FEB Undip, Sidiq M. Asnan, ST., MM. yang memberikan gambaran tentang profil kampus FEB Undip bidang akademik, kemahasiswaan, sarana dan prasarana kampus. Acara dilanjutkan dengan pemberian kenang-kenangan antara Fikom Unpad dan SMA Citra Islami dan ditutup dengan foto bersama.