Berita

Riwayat Berdirinya Universitas Diponegoro

Kegiatan Fakultas

LKDPDEM UNDIP Sambangi FEB: Perkuat Edukasi Etika dan Pencegahan Kekerasan di Kampus

Semarang, 16 Mei 2025 — Universitas Diponegoro melalui UPT Layanan Konsultasi, Disabilitas, Penegakan Disiplin, dan Etika Mahasiswa (LKDPDEM) terus menunjukkan komitmennya dalam memperkuat perlindungan terhadap sivitas akademika melalui kegiatan edukatif dan penguatan kapasitas. Dalam rangka roadshow ke-13 di lingkungan fakultas/sekolah, UPT LKDPDEM menggandeng Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) Undip sebagai tuan rumah pelaksanaan pelatihan bertajuk “Teknik Pemeriksaan Pelaku, Korban, dan Saksi pada Kasus Kekerasan Fisik dan Seksual”, yang digelar di Hall Pertamina FEB Undip. Kegiatan ini menjadi bagian dari langkah strategis untuk memperkuat kesiapsiagaan dan profesionalitas Tim Satuan Tugas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Perguruan Tinggi (Satgas PPKPT) UNDIP dalam menangani berbagai kasus kekerasan di lingkungan kampus. Dibuka oleh Prof. Dr. Harjum Muharam, S.E., M.E., selaku Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kemahasiswaan FEB Undip, kegiatan ini disambut antusias oleh peserta yang terdiri dari dosen, tenaga kependidikan, serta mahasiswa. Dalam sambutannya, Prof. Harjum menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk nyata kepedulian kampus terhadap isu-isu kekerasan, serta sebagai upaya membangun lingkungan akademik yang aman dan suportif. “Kampus harus menjadi ruang aman untuk semua. Diperlukan kesiapan dari seluruh unsur di kampus, baik dari sisi pengetahuan, keterampilan, maupun empati. Semua pihak harus menigkatkan kewaspadaan (awareness) terhadap isu-isu kekerasan baik dari hal terkecil hingga yang paling besar.” ujarnya. Dua narasumber dari Satgas PPKPT Undip turut hadir sebagai pemateri utama dalam pelatihan ini, yaitu Annastasia Ediati, S.Psi., M.Sc., Ph.D., dari Fakultas Psikologi, dan Dr. Anak Agung Sagung Manik Mahachandra Jayanthi Mertha, S.T., M.Sc., dari Fakultas Teknik. Keduanya menyampaikan materi secara interaktif dan aplikatif terkait teknik komunikasi dan pemeriksaan dalam penanganan kasus kekerasan, dengan pendekatan berbasis korban. Melalui kegiatan ini, UPT LKDPDEM Undip berharap dapat memperkuat jejaring penanganan kasus kekerasan di seluruh fakultas dan sekolah. Lebih jauh, pelatihan ini menjadi momen penting dalam membangun budaya kampus yang menjunjung tinggi nilai-nilai empati, keadilan, dan perlindungan bagi seluruh sivitas akademika. Dengan adanya peningkatan kapasitas ini, diharapkan Satgas PPKPT Undip mampu memberikan pendampingan yang lebih humanis, profesional, dan berpihak kepada korban.

Success Story : Dari Fakultas Ekonomika dan Bisnis Undip Menuju Puncak Dunia Bisnis Indonesia

Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Diponegoro (FEB Undip) mencatat salah satu kisah inspiratif alumninya melalui sosok Michael Bambang Hartono, pengusaha nasional yang dikenal luas sebagai figur sentral dalam dunia bisnis Indonesia. Bersama sang kakak, Robert Budi Hartono, beliau membangun dan mengembangkan kelompok usaha besar yang bergerak di berbagai sektor strategis, mulai dari industri rokok, perbankan, teknologi, hingga properti. Perjalanan panjang tersebut bermula dari bangku kuliah di FEB Undip, Semarang. Michael Bambang Hartono lahir di Kudus, Jawa Tengah, pada 2 Oktober 1939. Setelah menempuh pendidikan di Fakultas Ekonomika dan Bisnis Undip, beliau melanjutkan peran keluarga dengan mengelola PT Djarum pascawafatnya sang ayah pada tahun 1963. Tantangan besar sempat dihadapi, termasuk musibah kebakaran pabrik yang mengakibatkan kerugian signifikan. Namun, melalui ketangguhan, inovasi, dan strategi bisnis yang berkelanjutan, PT Djarum berhasil tumbuh menjadi salah satu perusahaan rokok terbesar dan paling berpengaruh di Indonesia. Di luar dunia bisnis, Michael Bambang Hartono juga menunjukkan dedikasi tinggi dalam bidang olahraga, khususnya cabang bridge. Beliau pernah mewakili Indonesia pada Asian Games 2018 dan berhasil meraih medali perunggu, menjadikannya salah satu atlet tertua yang meraih prestasi di ajang olahraga internasional tersebut. Capaian ini menegaskan bahwa semangat berprestasi dan daya juang dapat terus tumbuh lintas usia dan bidang. Kontribusi Michael Bambang Hartono juga tercermin dalam kepeduliannya terhadap dunia pendidikan, termasuk FEB Undip. Pada peringatan 60 Tahun FEB Undip, beliau menyampaikan orasi ilmiah yang menekankan pentingnya kualitas pendidikan tinggi dalam menghadapi tantangan globalisasi dan Revolusi Industri 4.0. Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam menyiapkan sumber daya manusia yang adaptif, kompeten, dan berdaya saing global. Kisah Michael Bambang Hartono menjadi bukti bahwa FEB Undip telah melahirkan lulusan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga mampu memberi dampak nyata bagi perekonomian dan masyarakat luas. Dari ruang kelas hingga panggung bisnis nasional dan internasional, perjalanan beliau menjadi inspirasi bagi generasi muda untuk terus berinovasi, berintegritas, dan berkontribusi bagi bangsa.

Marching Into The Global World

“Economy goes marching in, economy goes marching in, oh I want to be in a number, economy goes marching in” (lirik diubah oleh Oerip Lestari) SENJA temaram di tengah hujan rintik ketika kita memasuki area kampus Fakultas Ekonomi Bisnis Universitas Diponegoro (FEB Undip) Semarang di Tembalang Sabtu (3/5/2025). Tasyakuran Dies Natalis FEB ke 65, sekaligus membangun jejaring alumni, di gelar di Pertamina Meeting Room lantai 3 gedung Dekanat. Suasana meriah mulai terasa, menyongsong kehadiran alumni berbagai angkatan. Sebelum memasuki venue, para undangan dipersilakan berfoto ria di booth yang tersedia. Perasaan bangga telah menjadi bagian dari keluarga besar FEB Undip, menyelimuti teman teman se alma mater. Baik yang telah lanjut usia maupun yang masih “fresh from the oven” cipika cipiki sebagai bentuk dari keakraban terlihat di sana sini, di antara meja-meja yang tertata rapi lengkap dengan cemilannya. Dekan, mas Faisal PhD yang ramah beserta seluruh stakeholdernya, didampingi ketua panitia mas Suryo dan Ketua IKAFE (Ikatan Keluarga Fakultas Ekonomi) mas Syaiful Bahri, berbatik apik menyambut semua tamu dengan hangat dan semanak. Sebagai angkatan baby boomers, saya belum pernah mengenal mereka karena perbedaan angkatan dan usia yang terentang panjang lebih dari 60 tahun lalu. Wajah mereka nampak segar, phisik masih bugar serta kecerdasan akademik yang fantastik membuat kita percaya merekalah pembawa kemajuan di negeri ini. Sambil menunggu kehadiran rektor, Prof Suharnomo yang selalu energic, ingatan melayang jauh ke belakang, menjangkau sejarah berdirinya Fakultas Ekonomi Universitas Diponegoro. Jasmerah, itu adalah ungkapan tepat untuk menunjukkan bahwa yang ada saat ini tidak dapat lepas dari kondisi masa lalu, dengan segala keterbatasannya. Gedung kuno di kawasan Jalan Pemuda (dulu bernama Jalan Bojong ) Nomer 163 menjadi saksi sejarah dari kelahiran Fakultas Ekonomi, yang sekarang berubah nama menjadi Fakultas Ekonomika dan Bisnis, sesuai tuntutan zaman. Gedung yang semula berfungsi sebagai bengkel dan showroom mobil di tahun 60-an itu, kini sudah tiada, bermetamorfose menjadi pompa bensin dan resto cepat saji Kentucky Fried Chicken, makanan favorit anak zaman now. Di gedung tua berwajah suram itulah mahasiswa dari berbagai penjuru Jawa Tengah, bahkan ada pula yang dari luar Jawa menimba ilmu untuk meraih gelar Sarjana Ekonomi. Sebagai salah satu Perguruan Tinggi yang tergolong muda, Undip dibantu pengembangannya oleh dosen dosen dari Universitas Gadjah Mada, pada saat itu. Benang merah sejarah antara Undip dan UGM tidak dapat dinafikan atau pun diingkari. Sampai saat inipun banyak dosen muda yang melanjutkan studinya ke jenjang yang lebih tinggi di UGM. Selanjutnya, marilah kita nikmati oleh-oleh Prof Harnomo dari Beijing dengan seksama. Memang ada gurat kelelahan di wajahnya, tetapi gaya khasnya yang hangat tidak hilang. Semua disapa dan di”uwongke”, diselingi kelakar kelakar segar, yang menyebabkan suasana menjadi cair mengalir secara spontan. Beliau mengawali sambutannya dengan sedikit mengulas bukunya Sterling Seagrave berjudul “Lords of the Rim, The Invisible Empire Of The Overseas Chinese”. Buku yang sama sudah penulis baca tahun 1995 , sebagai salah satu literatur saat kuliah di Program Studi Ketahanan Nasional Universitas Indonesia. Dalam buku tersebut, Seagrave menguraikan betapa digdayanya 55 juta China perantauan.yang tersebar hampir di seluruh dunia (di tahun 1995). Para perantauan ini, tidak hanya pandai tetapi juga rajin, ulet dan tangguh. Solidaritas ethnisnya sangat kokoh, demikian juga jaringan bawah tanahnya yang masif, politik pragmatis ditambah kemampuan adaptif atas lingkungan di sekitarnya yang hebat, membuat mereka mampu mengalahkan Jepang. Bayangkan, dalam kurun waktu hanya 30 tahun, sejak 1995 sampai 2025, mereka telah tumbuh menjadi “empire” yang sangat powerful berhadapan dengan Amerika Serikat yang kian meredup. Itulah fakta yang kita lihat saat ini, suka atau tidak. Kemajuan China yang “ngedhab edhabi” diwakili oleh Beijing sebagai ibukotanya menyisakan kekaguman pak Rektor. Mengingat sekitar 40 tahun lalu , China masih merupakan negara miskin berpenduduk hampir semilyar yang tertatih-tatih menggapai kemakmuran. Datanglah Deng Xiao Ping, pemimpin yang berani melakukan perombakan besar besaran di semua lini. Serentak wajah Cina berubah drastis, dari negara komunis yang muram dan dogmatis menjelma menjadi negara modern melebihi negara negara maju di Barat. Ideologi boleh komunis, tetapi pola pembangunan yang diterapkan oleh pemerintah China sungguh memukau. Modern dan sangat western, kita sudah tidak melihat sederetan buruh berseragam biru dan topi pet , bersepeda menelusuri jalan jalan utama. Sebut saja Kota Shanghai yang gemerlap dipenuhi mobil mobil mewah edisi terbaru buatan dalam negeri. Saking cantiknya, para produser film Hollywood sering memilih Shanghai sebagai lokasi shooting film film James Bond yang berkelas. Terkesan oleh kehangatan sambutan yang diterima pak Rektor selama bertamu di Beijing. Maka sebagai timbal baliknya beliau mengundang Rektor Universitas Beijing untuk menghadiri Dies Natalis Undip Oktober mendatang. Sekalipun universitas-universitas di China sangat maju di bidang penggunaan teknologi (drone, robot), namun Undip tidak boleh berkecil hati, dalam hal ini FEB. Kita memiliki sejumlah andalan yang memang pantas untuk dipamerkan kepada tamu mancanegara. Pada hakekatnya sebuah Lembaga Pendidikan Tinggi tidak hanya dinilai dari phisiknya saja, tetapi juga di nilai dari interaksi sosial dengan lingkungan setempat. Mungkin apabila di lihat dari fasilitas phisik yang tersedia, kondisi Undip kalah jauh dibanding Universitas di Beijing. Itu wajar adanya dan kita memang sedang melakukan perbaikan sesuai alokasi dana yang tersedia. FEB sebagai bagian dari Undip, memiliki program pendidikan yang cukup genuine. Misalnya, program pertukaran mahasiswa ke negara negara ASEAN, Australia dan Eropa. Bahkan FEB juga membuka kelas internasional dengan pengantar kuliahnya berbahasa Inggris, mahasiswanya berasal dari dalam dan luar negeri. Hal ini boleh dikatakan merupakan modal untuk menjadi world class university yang membanggakan. Adapun yang tidak kalah menarik seperti yang disampaikan Dekan mas Zaenal, yaitu mengundang para alumni praktisi untuk berbagi pengalaman di tataran praksis selama bertugas di berbagai sektor. Langkah yang original dan out of the box, sebagaimana di negara negara maju yang memanfaatkan retired citizens sebagai motivator. Kampus ideal adalah kampus yang mewarnai, bermakna dan bermanfaat bagi masyarakat baik secara ekonomi, sosial budaya, pelestarian alam dan menghargai kearifan lokal. Keberanian melangkah one step ahead dan kerja keras, merupakan kunci utama untuk meraih kemenangan, ” only the brave survived Purna Carita Bagi orang awam di luar Universitas Diponegoro, saat ini kita menyaksikan hasil pembangunan yang menakjubkan di kawasan Tembalang Semarang. Kini Tembalang sudah berkembang menjadi kota cantik mungil di kaki perbukitan Diponegoro, yang senantiasa akan terus

FEB UNDIP Jadi Tuan Rumah KKP 6.0: Fokus Transformasi Ekonomi untuk Mendukung Asta Cita.

Semarang, 24 April 2025 — Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Diponegoro (FEB Undip) bersama Bank Indonesia dan Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) menyelenggarakan Seminar Kajian Kebijakan Publik (KKP) 6.0 dengan tajuk “Model Akselerasi Pertumbuhan Ekonomi untuk Mendukung Asta Cita.” Bertempat di Ruang Hall Pertamina FEB Undip, kegiatan ini menjadi forum strategis dalam membahas arah pertumbuhan ekonomi Indonesia yang inklusif dan berkelanjutan, sejalan dengan visi besar pembangunan nasional Asta Cita. Acara yang dihadiri oleh akademisi, praktisi, dan pemangku kebijakan ini secara resmi dibuka oleh Rektor Undip sekaligus Ketua ISEI Cabang Semarang, Prof. Dr. Suharnomo, S.E., M.Si. Dalam sambutannya, beliau menekankan pentingnya peran perguruan tinggi dalam mendukung penguatan model pembangunan nasional melalui kontribusi nyata di bidang inovasi dan riset. Ia juga menyinggung keberhasilan Undip dalam mengembangkan mesin desalinasi air payau sebagai solusi intrusi air laut di pesisir Jawa Tengah. “Saat ini, mesin tersebut telah beroperasi di Jepara yang mampu menghasilkan 100 ribu liter tiap harinya, serta Demak, Blora, Pekalongan, dan akan dikembangkan menjadi 20 titik di berbagai daerah lainnya di Jawa Tengah,” jelas Prof. Suharnomo. Komitmen Undip terhadap pembangunan berkelanjutan juga tercermin dari dorongan kuat untuk menjalin kolaborasi lintas sektor antara akademisi, pemerintah, dan pelaku industri. Sinergi ini, menurutnya, harus dibingkai dalam sebuah blueprint yang terukur dan berorientasi jangka panjang agar hasil inovasi benar-benar berdampak dan solutif bagi permasalahan riil di masyarakat. Keynote speech dalam seminar ini disampaikan oleh Deputi Gubernur Bank Indonesia sekaligus Ketua Bidang III PP ISEI, Ibu Aida S. Budiman, Ph.D. Dalam paparannya, ia menyoroti perlunya kerja sama erat antara dunia akademik, pembuat kebijakan, dan pelaku usaha untuk memperkuat fondasi ekonomi nasional. “Kegiatan hari ini adalah bagian dari tanggung jawab ISEI untuk menyumbangkan solusi atas tantangan perekonomian saat ini. Harapannya, buku yang akan kami terbitkan tidak hanya menjadi referensi, tapi juga memiliki daya implementasi yang kuat,” tegasnya. Dalam diskusi yang dimoderatori oleh Donni Fajar Anugrah ini menghadirkan panel narasumber dari berbagai latar belakang, yakni Firman Mochtar (Kepala DKEM Bank Indonesia/Wakil Ketua Bidang III PP ISEI) yang menyoroti strategi pertumbuhan ekonomi nasional ke depan, Prof. Telisa Aulia Falianty (Guru Besar FEB UI) yang mengulas urgensi akselerasi kebijakan fiskal dan hilirisasi. Prof. Firmansyah (Dosen FEB Undip) yang mengulas peran kebijakan sektor unggulan di Jawa Tengah dalam mendukung Asta Cita. Dimana beliau menekankan bahwa Provinsi Jawa Tengah memiliki dua kekuatan utama dalam mendongkrak pertumbuhan ekonomi regional. “Jawa Tengah sangat kuat dalam hilirisasi dan modernisasi pertanian, serta industri manufaktur khususnya di industri makanan dan minuman. Kedua sektor ini perlu didorong lebih jauh agar dapat menjadi pendorong utama pertumbuhan ekonomi regional,” ungkapnya. Dengan terselenggaranya Seminar KKP 6.0, menegaskan posisi FEB undip sebagai institusi akademik yang tidak hanya unggul dalam pendidikan dan penelitian, tetapi juga aktif mengambil peran strategis dalam mendorong arah kebijakan ekonomi nasional melalui riset dan kolaborasi lintas sektor.

Pengembalian UKT Semester Genap 2024/2025 bagi Mahasiswa Tingkat Akhir

Semarang (23/4) – Universitas Diponegoro (Undip) memberikan kesempatan kepada mahasiswa tingkat akhir untuk mengajukan pengembalian Uang Kuliah Tunggal (UKT) maksimal sebesar 50% untuk Semester Genap Tahun Akademik 2024/2025. Ketentuan ini tertuang dalam Surat Nomor: 387/UN7.A/KU/IV/2025 yang ditujukan kepada seluruh Dekan Fakultas/Sekolah di lingkungan Undip. Pengembalian UKT ini diperuntukkan bagi mahasiswa yang mengambil mata kuliah sebanyak 6 (enam) SKS atau kurang, dengan kriteria sebagai berikut: Mahasiswa Program D3 minimal semester 8. Mahasiswa Program Sarjana dan Sarjana Terapan minimal semester 10. Sudah melakukan pembayaran UKT Semester Genap 2024/2025. Tidak menerima pengurangan UKT pada semester tersebut. Pengajuan permohonan dilakukan secara daring melalui laman SSO Undip dengan melampirkan: IRS Semester Genap 2024/2025. Bukti pembayaran UKT semester yang bersangkutan. Salinan buku tabungan atas nama mahasiswa. Pernyataan dari dosen pembimbing terkait kemajuan tugas akhir atau Surat Keterangan Lulus (SKL) bagi yang sudah menyelesaikan studi. Batas akhir unggah berkas permohonan ditetapkan hingga 5 Mei 2025. Selanjutnya, Fakultas/Sekolah akan melakukan verifikasi dan persetujuan sebelum proses verifikasi di tingkat universitas dilakukan. Pengembalian UKT akan dilakukan secara bertahap setelah proses tersebut selesai. Kebijakan ini diharapkan dapat memberikan dukungan finansial bagi mahasiswa tingkat akhir, serta mendorong percepatan penyelesaian studi secara optimal.

SUCCESS STORY : Tirta Segara Menuju Kepemimpinan di OJK dan Bank Indonesia

Tirta Segara, S.E., M.BA., adalah sosok profesional yang telah mengukir perjalanan gemilang dalam dunia keuangan Indonesia. Sebagai alumni Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Diponegoro (FEB Undip), beliau menunjukkan bahwa pendidikan yang kuat dapat menjadi landasan untuk mencapai puncak kepemimpinan di sektor publik. Lahir di Semarang pada 1963, Tirta memulai perjalanan akademiknya dengan menempuh pendidikan di Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Diponegoro, Semarang, dan meraih gelar Sarjana Ekonomi pada tahun 1987. Beliau kemudian melanjutkan studi di The George Washington University, memperoleh gelar Magister Administrasi Bisnis di bidang Keuangan dan Investasi pada tahun 1994 dengan beasiswa dari Bank Indonesia. Karier profesional beliau dimulai dengan bekerja di Indofood Group sebelum bergabung dengan Bank Indonesia melalui program PCPM pada tahun 1998. Selama hampir tiga dekade, beliau memegang berbagai peran, termasuk posisi kepemimpinan strategis, dan menjabat sebagai Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi dan Juru Bicara Bank Indonesia. Pada 2024, Tirta ditunjuk sebagai Komisaris Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang berspesialisasi di bidang Pendidikan dan Perlindungan Konsumen. Dalam peran ini, beliau berfokus pada peningkatan literasi keuangan dan perlindungan konsumen, menjawab tantangan dalam pemahaman masyarakat tentang produk keuangan. Upayanya bertujuan untuk menutup kesenjangan antara inklusi keuangan dan literasi, menekankan pendidikan, regulasi, dan pengawasan penyedia layanan keuangan. Kisah Tirta Segara adalah contoh nyata bagaimana pendidikan yang kuat, visi yang jelas, dan kerja keras dapat membawa seseorang mencapai puncak kesuksesan. Sebagai alumni Fakultas Ekonomika dan Bisnis Undip, beliau tidak hanya berhasil membangun karier yang cemerlang di sektor publik, tetapi juga memberikan kontribusi positif bagi bangsa melalui kebijakan layanan keuangan yang adil dan berkelanjutan.

SUCCESS STORY : Dari Bangku FEB Undip ke Pemerintahan Daerah: Perjalanan Suyono sebagai Wakil Bupati Batang

Suyono, S.IP., M.Si., merupakan alumni Program Magister Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Diponegoro (FEB Undip) yang dikenal luas atas kiprahnya dalam pemerintahan daerah serta kedekatannya dengan masyarakat. Ia lahir pada 27 April 1966 dan menjabat sebagai Wakil Bupati Batang, Jawa Tengah, periode 2017–2022, mendampingi Bupati Wihaji. Selama masa kepemimpinannya, pasangan Bupati Wihaji dan Wakil Bupati Suyono mengusung tagline “Guyub Rukun Mbangun Batang”, yang merefleksikan semangat kebersamaan, gotong royong, dan pembangunan partisipatif. Tagline tersebut tidak hanya menjadi slogan, tetapi juga tercermin dalam praktik kepemimpinan dan pelayanan publik di Kabupaten Batang. Dalam bidang akademik, Suyono menyelesaikan pendidikan Sarjana Ilmu Pemerintahan di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Widya Mataram Yogyakarta dan lulus pada tahun 2007. Ia kemudian melanjutkan studi ke jenjang magister di Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Diponegoro, yang diselesaikannya pada tahun 2014. Pendidikan di FEB Undip memperkuat pemahamannya mengenai tata kelola pemerintahan, manajemen publik, serta pengambilan kebijakan berbasis ekonomi dan kesejahteraan masyarakat. Suyono dikenal sebagai pemimpin yang dekat dan mudah diakses oleh masyarakat. Gaya kepemimpinannya yang sederhana, tanpa jarak protokoler yang kaku, membuatnya akrab dengan berbagai lapisan warga. Sejak menjabat sebagai wakil bupati, ia aktif melakukan blusukan ke rumah-rumah warga, khususnya masyarakat kurang mampu, serta terlibat langsung dalam berbagai kegiatan sosial, seperti pembagian bantuan pangan, khitanan anak yatim, dan pelaksanaan salat Jumat keliling. Kiprah Suyono menunjukkan peran nyata alumni FEB Undip dalam menghadirkan kepemimpinan yang humanis, inklusif, dan berorientasi pada pelayanan publik. Pengalamannya menjadi bukti bahwa penguatan kapasitas akademik di bidang ekonomi dan manajemen publik dapat berkontribusi langsung pada pembangunan daerah dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Khotmil Qur’an Menjadi Tradisi Wajib bagi FEB Undip, dalam Rangka Perayaan Dies Natalis ke-65

Semarang (25/03/2025) – Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Diponegoro (FEB Undip) menggelar Penutupan Khotmil Qur’an sebagai bagian dari rangkaian perayaan Dies Natalis ke-65. Acara yang berlangsung di Hall KWU FEB Undip ini dihadiri oleh sivitas akademika dengan penuh kekhidmatan. Khotmil Qur’an telah menjadi tradisi tahunan FEB Undip, bukan hanya sebagai bentuk syukur atas perjalanan akademik yang telah ditempuh, tetapi juga sebagai momentum spiritual untuk memohon keberkahan. Dalam sambutannya, Dekan FEB Undip mengungkapkan harapannya agar kegiatan ini dapat menginspirasi seluruh peserta dan membawa manfaat bagi lingkungan akademik. “Terimakasih atas kehadiran pak Ustadz Habiburrahman. Semoga apa yang beliau sampaikan nanti dapat menginspirasi kita semua. Dan tentunya Kehadiran kita ini mendapat limpahan Barokah dari Allah swt”.  Ujar Prof. Faisal Selain pembacaan ayat suci Al-Qur’an, acara juga diisi dengan tausiyah oleh Ustadz Habiburrahman, yang menekankan pentingnya menjaga nilai-nilai keislaman dalam kehidupan sehari-hari. FEB Undip juga turut berbagi kebahagiaan dengan memberikan santunan kepada Yayasan Ar Rodiyah Semarang, sebagai wujud kepedulian sosial dan semangat berbagi di bulan yang penuh berkah. Melalui rangkaian kegiatan Dies Natalis ini, FEB Undip menegaskan komitmennya dalam menciptakan lingkungan akademik yang tidak hanya unggul dalam ilmu pengetahuan, tetapi juga kuat dalam nilai-nilai moral dan spiritual. Dengan semangat kebersamaan, diharapkan seluruh sivitas akademika dapat terus berkontribusi bagi masyarakat serta menjunjung tinggi nilai integritas dalam setiap langkahnya.

Dies Natalis ke-65 FEB Undip: Pajak sebagai Pilar Utama dalam Membangun Negeri

Semarang – Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Diponegoro (FEB Undip) menggelar Orasi Ilmiah sebagai bagian dari peringatan Dies Natalis ke-65. Acara ini menghadirkan Direktur Jenderal Pajak Kementerian Keuangan Republik Indonesia, Suryo Utomo, S.E., Ak., S.H., M.B.T., Ph.D., yang menyampaikan orasi bertajuk “Pajak: Antara Kebutuhan dan Kepatuhan”. Bertempat di Hall Kewirausahaan, Gedung Laboratorium Kewirausahaan FEB Undip, acara ini berlangsung pada Jumat, 14 Maret 2025, dan dihadiri oleh akademisi, mahasiswa, serta tamu undangan. Dalam orasinya, Suryo Utomo menegaskan bahwa pajak merupakan pilar utama penerimaan negara, dengan kontribusi mencapai hampir 80% dari total pendapatan nasional. Ia menyoroti bahwa kepatuhan pajak bukan sekadar kewajiban administratif, tetapi juga fondasi bagi stabilitas ekonomi dan keberlanjutan pembangunan nasional. “Kesadaran membayar pajak bukan hanya menjadi tanggung jawab individu, tetapi juga bagian dari kontribusi nyata terhadap pembangunan bangsa. Dengan sistem perpajakan yang baik, kita dapat memastikan pemerataan kesejahteraan serta keberlanjutan program-program pembangunan,” ungkapnya. Selain membahas pentingnya kepatuhan pajak, Dirjen Pajak juga mengulas kebijakan reformasi perpajakan yang tengah diterapkan guna meningkatkan efektivitas pemungutan pajak. Ia menjelaskan strategi pemerintah dalam menciptakan sistem perpajakan yang lebih transparan, adil, dan berkelanjutan. Diskusi ini mendapat respons positif dari peserta yang antusias mengajukan pertanyaan terkait tantangan dalam implementasi kebijakan perpajakan di Indonesia. Sinergi Akademik untuk Pertumbuhan Berkelanjutan Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Keuangan, Aset, Bisnis, dan Kerumahtanggaan Undip, Dr. Warsito Kawedar, S.E., M.Si., Akt., dalam sambutannya mengapresiasi pelaksanaan Orasi Ilmiah sebagai wadah akademik yang memperkaya wawasan sivitas akademika. Ia juga menekankan pentingnya kemandirian pendanaan universitas sebagai langkah strategis dalam mendukung keberlanjutan institusi pendidikan tinggi. Sementara itu, Dekan FEB Undip menegaskan bahwa tema Dies Natalis ke-65, “Strengthening a Noble and Valuable World-Class Faculty Through Synergy and Accelerated Growth”, mencerminkan komitmen fakultas dalam memperkuat sinergi serta mempercepat pertumbuhan menuju standar internasional. Dengan delapan program studi yang telah meraih akreditasi internasional, FEB Undip terus berupaya mencetak lulusan yang unggul, bermartabat, dan memberikan dampak nyata bagi masyarakat. Dies Natalis FEB Undip: Refleksi dan Aksi Nyata Orasi Ilmiah ini merupakan salah satu rangkaian acara dalam perayaan Dies Natalis ke-65 FEB Undip, yang telah berlangsung sejak awal Maret. Kegiatan lainnya mencakup Khotmil Quran, Lomba Debat Ekonomi, Jalan Sehat, dan akan ditutup dengan Bakti Sosial pada April mendatang. Melalui perayaan ini, FEB Undip tidak hanya merefleksikan pencapaiannya selama 65 tahun terakhir, tetapi juga memperkuat peran akademik dan profesional dalam mendukung pembangunan ekonomi nasional. Kehadiran Dirjen Pajak dalam Orasi Ilmiah ini menjadi bukti nyata komitmen FEB Undip dalam memberikan kontribusi bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan kebijakan ekonomi di Indonesia.

SUCCESS STORY SURYO UTOMO : Menuju Kepemimpinan di Direktorat Jenderal Pajak

Suryo Utomo, S.E., Ak., M.B.T., Ph.D., adalah sosok yang telah mengukir perjalanan gemilang dalam dunia perpajakan Indonesia. Sebagai alumni Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Diponegoro (FEB Undip), beliau menunjukkan bahwa pendidikan yang kuat dapat menjadi landasan untuk mencapai puncak kepemimpinan di sektor publik. Lahir di Indonesia, Suryo Utomo memulai perjalanan akademiknya dengan menempuh pendidikan di Fakultas Ekonomi Universitas Diponegoro, Semarang, dan meraih gelar Sarjana Ekonomi pada tahun 1992. Setelah itu, beliau melanjutkan studi di luar negeri, memperoleh gelar Master of Business Taxation dari University of Southern California, Amerika Serikat, pada tahun 1998, dan gelar Doctor of Philosophy in Taxation dari Universiti Kebangsaan Malaysia. Karier profesional beliau dimulai pada tahun 1993 sebagai pelaksana di Sekretariat Direktorat Jenderal Pajak. Seiring berjalannya waktu, beliau menempati berbagai posisi strategis, termasuk Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak Jateng I pada tahun 2009, Direktur Peraturan Perpajakan I pada tahun 2010, dan Direktur Ekstensifikasi dan Penilaian pada tahun 2015. Puncak karier beliau tercapai pada 1 November 2019, ketika beliau dilantik sebagai Direktur Jenderal Pajak oleh Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati Sebagai Direktur Jenderal Pajak, Suryo Utomo menghadapi tantangan besar, terutama saat pandemi COVID-19 melanda beberapa bulan setelah beliau menjabat. Beliau menerapkan strategi adaptif untuk menjaga penerimaan negara dengan memperluas basis pajak dan melakukan pengawasan wilayah, meski kondisi pandemi membatasi aktivitas ekonomi. Di bawah kepemimpinannya, sektor pajak diarahkan untuk mendukung kesejahteraan masyarakat dan mempertahankan stabilitas ekonomi, terutama di sektor yang bertahan selama pandemi, seperti makanan, obat-obatan, dan komunikasi. Pada peringatan Dies Natalis ke-65 FEB Undip pada 14 Maret 2025, Suryo Utomo menyampaikan orasi ilmiah bertajuk “Pajak: Antara Kebutuhan dan Kepatuhan”. Dalam orasinya, beliau menegaskan bahwa pajak merupakan pilar utama penerimaan negara, dengan kontribusi mencapai hampir 80% dari total pendapatan nasional. Beliau menyoroti bahwa kepatuhan pajak bukan sekadar kewajiban administratif, tetapi juga fondasi bagi stabilitas ekonomi dan keberlanjutan pembangunan nasional.