Pengumuman

Riwayat Berdirinya Universitas Diponegoro

Kegiatan Fakultas

Peran Alumni FEB Undip dalam Kepemimpinan Bisnis dan Legislatif Nasional: Kiprah Ir. Daniel Budi Setiawan

Ir. Daniel Budi Setiawan, M.M., merupakan alumni Program Magister Manajemen Universitas Diponegoro yang memiliki pengalaman panjang di bidang bisnis dan politik nasional. Saat ini, ia menjabat sebagai Ketua Dewan SIBA Group, salah satu kelompok usaha transportasi dan logistik yang berkembang di Indonesia. Daniel Budi Setiawan menyelesaikan pendidikan Sarjana Teknik Mesin di Institut Teknologi Bandung (ITB) pada tahun 1980. Untuk memperkuat kompetensi manajerial dan kepemimpinan, ia melanjutkan studi ke jenjang Magister Manajemen di Universitas Diponegoro, yang diselesaikannya pada tahun 1996. Pendidikan di Undip menjadi bekal penting dalam perjalanan profesionalnya di dunia korporasi dan pengambilan kebijakan strategis. Karier Daniel Budi Setiawan diawali di sektor industri sebagai Engineering Manager di Tjokro Bersaudara. Ia kemudian mengembangkan kiprahnya sebagai wiraswasta, sebelum terjun lebih jauh ke dunia bisnis dan politik. Di lingkungan SIBA Group, ia pernah menjabat sebagai Direktur hingga tahun 1999, serta dipercaya sebagai Komisaris Utama PT Siba Surya Group, sebelum akhirnya mengemban peran sebagai Ketua Dewan SIBA Group hingga saat ini. Selain berkiprah di dunia usaha, Ir. Daniel Budi Setiawan juga memiliki pengalaman di lembaga legislatif. Ia tercatat sebagai Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) dari Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI Perjuangan) untuk Daerah Pemilihan Jawa Tengah I pada periode 1999–2004. Pengalaman tersebut memperkaya perspektifnya dalam memadukan kepemimpinan bisnis dengan pemahaman kebijakan publik. Kiprah Ir. Daniel Budi Setiawan mencerminkan kontribusi alumni FEB Undip dalam mengisi peran strategis di sektor bisnis dan politik nasional. Perjalanan kariernya menegaskan bahwa penguatan kompetensi manajerial yang diperoleh di Undip mampu menjadi fondasi kepemimpinan yang adaptif dan berdampak luas bagi masyarakat.

Alumni Success Story : BAMBANG PRAMONO of BANK INDONESIA

Bambang Pramono lahir di Jakarta pada 6 September 1971. Perjalanan akademiknya di bidang ekonomi dimulai di Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Diponegoro, tempat ia menyelesaikan pendidikan sarjana dan lulus pada tahun 1995. Bekal pendidikan di FEB Undip menjadi fondasi penting dalam membentuk cara berpikir analitis, profesionalisme, serta pemahaman manajerial yang kemudian mewarnai kiprah kariernya. Komitmen untuk terus mengembangkan kapasitas keilmuan membawanya menempuh pendidikan lanjutan di tingkat internasional. Bambang Pramono meraih gelar Master of Economics dari International University of Japan pada tahun 2004, kemudian menyelesaikan studi doktoral di bidang ekonomi di Nagoya University, Jepang, pada tahun 2014. Pengalaman akademik lintas negara tersebut memperkaya perspektifnya dalam memahami dinamika ekonomi global, kebijakan moneter, serta pembangunan ekonomi regional. Sejak tahun 1998, Bambang Pramono mengabdikan diri di Bank Indonesia, institusi strategis dalam menjaga stabilitas perekonomian nasional. Sepanjang kariernya, ia dipercaya mengemban berbagai posisi penting, mulai dari perumusan kebijakan hingga peran manajerial. Pengalaman panjang ini membentuk kepekaannya terhadap isu stabilitas moneter, pengendalian inflasi, serta penguatan sistem keuangan di tingkat nasional dan daerah. Sebelum menjalankan tugas di Palembang, Bambang Pramono menjabat sebagai Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Solo sejak tahun 2019. Di bawah kepemimpinannya, berbagai inisiatif penguatan ekonomi daerah berbasis UMKM dan sinergi lintas pemangku kepentingan berhasil dikembangkan. Capaian tersebut mengantarkannya dipercaya untuk memimpin Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumatera Selatan sejak Agustus 2025. Sebagai pimpinan Bank Indonesia Sumatera Selatan, Bambang Pramono mengusung arah kebijakan yang menitikberatkan pada penguatan stabilitas moneter, perluasan inklusi keuangan, serta percepatan transformasi ekonomi digital. Ia juga mendorong kolaborasi erat dengan pemerintah daerah, sektor perbankan, dan lembaga keuangan lainnya guna memperluas akses pembiayaan bagi pelaku UMKM dan koperasi. Perjalanan Bambang Pramono mencerminkan nilai-nilai yang senantiasa dijunjung oleh Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Diponegoro. Dari ruang kuliah hingga peran strategis dalam perumusan kebijakan ekonomi, kiprahnya menjadi bukti bahwa kontribusi alumni FEB Undip tidak hanya diukur dari jabatan yang diraih, tetapi dari dampak nyata yang dihadirkan bagi pembangunan bangsa.

Alumni Tebar Benih Ikan di Embung FEB Undip, Dukung Pelestarian Ekosistem Perairan

Tembalang, 5 Juli 2025 — Embung Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Diponegoro (FEB Undip) menjadi lokasi kegiatan penebaran benih ikan oleh alumni SMP Negeri 2 Semarang. Kegiatan ini merupakan bentuk kepedulian terhadap lingkungan sekaligus kontribusi nyata dalam mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), khususnya pada aspek pelestarian ekosistem perairan. Kegiatan yang ini turut dihadiri oleh Dekan FEB Undip, Prof. Faisal. Dalam kesempatan tersebut, beliau menyampaikan apresiasi atas inisiatif alumni yang tidak hanya menunjukkan kepedulian terhadap lingkungan, tetapi juga memperkuat sinergi antara masyarakat dan institusi pendidikan dalam menjaga keberlanjutan sumber daya alam. Penebaran benih ikan di embung kampus tidak hanya berdampak ekologis, tetapi juga menjadi simbol komitmen bersama dalam menjaga keseimbangan lingkungan hidup. FEB Undip, sebagai bagian dari institusi pendidikan tinggi, terus mendorong berbagai kegiatan yang selaras dengan prinsip pembangunan berkelanjutan dan pelibatan aktif masyarakat.

SUCCESS STORY : Sasongko Tedjo di Garda Depan Informasi dan Kemanusiaan

Sasongko Tedjo, S.E., M.M., merupakan alumni Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Diponegoro (FEB Undip) angkatan 1983 yang dikenal luas atas kontribusinya di dunia jurnalistik dan kemanusiaan. Saat ini, ia menjabat sebagai Ketua Relawan Palang Merah Indonesia (PMI) Jawa Tengah, sekaligus memiliki rekam jejak panjang sebagai jurnalis dan editor bidang ekonomi di harian Suara Merdeka. Dalam perjalanan akademiknya di Undip, Sasongko Tedjo termasuk salah satu mahasiswa berprestasi. Ia tercatat sebagai salah satu dari tujuh lulusan tercepat, yang berhasil menyelesaikan studi dalam waktu empat tahun di tengah masa transisi sistem pendidikan dari berbasis paket ke Sistem Kredit Semester (SKS). Ia resmi meraih gelar Sarjana Ekonomi pada tahun 1983, meskipun pada saat itu masih harus menuntaskan kewajiban Kuliah Kerja Nyata (KKN). Bahkan, setelah prosesi wisuda, ia kembali ke sebuah desa di Kecamatan Gemuh, Kabupaten Kendal, untuk menyelesaikan pengabdian masyarakat tersebut. Sasongko Tedjo mengenang masa kuliahnya sebagai periode yang penuh tantangan sekaligus cerita menarik. Tinggal hanya sekitar 100 meter dari kampus membuatnya dikenal sebagai mahasiswa yang disiplin dan nyaris tidak pernah absen kuliah. Kedekatan tempat tinggal dengan kampus bahkan membuat rekan-rekannya kerap menjemputnya langsung dari rumah sebelum berangkat kuliah, sebuah pengalaman yang ia kenang dengan penuh humor. Dengan prestasi akademik yang menonjol, Sasongko Tedjo sebenarnya memiliki peluang besar untuk meniti karier konvensional di bidang ekonomi. Ia bahkan sempat ditawari bekerja di Bank Indonesia dan direncanakan untuk direkrut sebagai dosen oleh salah satu pengajarnya, Drs. Suratal HW. Namun, di luar ekspektasi banyak pihak, ia justru memilih dunia jurnalisme, sebuah keputusan yang menandai babak penting dalam perjalanan hidupnya. Karier jurnalistik Sasongko Tedjo dimulai di Suara Merdeka, di mana ia langsung dipercaya menangani desk ekonomi, sebuah posisi strategis pada masa kejayaan media cetak. Ia mengenang era tersebut sebagai masa ketika surat kabar menjadi sumber informasi utama masyarakat, dengan ritme kerja yang menuntut wartawan bekerja hingga dini hari demi memenuhi tenggat penerbitan. Dari proses panjang itu, Sasongko Tedjo terus berkembang hingga mencapai posisi Pemimpin Redaksi, puncak karier dalam industri media cetak. Selain kiprahnya di dunia media, dedikasi Sasongko Tedjo terhadap kemanusiaan tercermin melalui perannya di Palang Merah Indonesia Jawa Tengah, memperluas kontribusinya dari ranah informasi publik ke aksi sosial kemasyarakatan. Perjalanan Sasongko Tedjo menegaskan peran FEB Undip dalam membentuk lulusan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga berani mengambil pilihan hidup yang berdampak luas bagi masyarakat. Kiprahnya menjadi inspirasi bahwa ilmu ekonomi dapat berkontribusi melalui berbagai jalur pengabdian, termasuk jurnalisme dan kemanusiaan.

Success Story : Dari Fakultas Ekonomika dan Bisnis Undip Menuju Puncak Dunia Bisnis Indonesia

Di antara tokoh-tokoh besar dunia usaha Indonesia, nama Robert Budi Hartono menempati posisi yang istimewa. Kiprahnya dikenal luas bukan semata karena keberhasilan membangun kekuatan bisnis berskala nasional dan global, tetapi juga karena visi jangka panjang, konsistensi, serta integritas yang menjadi fondasi kepemimpinannya. Di balik perjalanan bisnis tersebut, terdapat latar belakang akademik yang berakar dari Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Diponegoro (FEB Undip), tempat nilai-nilai keilmuan dan profesionalisme mulai tertanam. Robert Budi Hartono, yang lahir di Kudus, Jawa Tengah, pada tahun 1941, menempuh pendidikan tinggi di Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Diponegoro, Semarang. Selama masa studinya, ia memperdalam pemahaman mengenai ekonomi dan manajemen, dua disiplin ilmu yang kelak memainkan peran penting dalam pengambilan keputusan strategis serta pengelolaan usaha berskala besar. Pendidikan di FEB Undip turut membentuk karakter Robert Budi Hartono sebagai pribadi yang disiplin, tekun, dan berpikir sistematis. Bekal akademik tersebut menjadi landasan kuat ketika ia harus menghadapi tantangan nyata di dunia usaha, termasuk dalam memimpin dan mengembangkan perusahaan keluarga di tengah dinamika ekonomi yang tidak selalu mudah. Setelah wafatnya sang ayah, pendiri PT Djarum, pada tahun 1963, Robert Budi Hartono bersama kakaknya, Michael Bambang Hartono, mengambil tanggung jawab besar untuk melanjutkan dan membesarkan perusahaan keluarga. Melalui kepemimpinan yang visioner dan strategi manajerial yang matang, keduanya berhasil membawa Djarum berkembang menjadi salah satu perusahaan terkemuka di Indonesia. Perjalanan bisnis Robert Budi Hartono tidak berhenti pada industri tembakau. Diversifikasi usaha menjadi ciri khas kepemimpinannya, salah satunya melalui langkah strategis Grup Djarum dalam mengakuisisi Bank Central Asia (BCA) pada masa krisis ekonomi 1997. Di bawah pengelolaan yang profesional dan berorientasi jangka panjang, BCA tumbuh menjadi salah satu institusi perbankan paling kuat dan inovatif di kawasan Asia Tenggara. Selain sektor perbankan, ekspansi juga dilakukan ke bidang properti, teknologi, dan agribisnis, memperkuat posisi Grup Djarum sebagai konglomerasi nasional yang berpengaruh. Nilai-nilai yang tercermin dalam perjalanan Robert Budi Hartono—kerja keras, ketekunan, integritas, dan komitmen terhadap inovasi—selaras dengan semangat yang dijunjung oleh Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Diponegoro. Kisahnya menjadi inspirasi bagi sivitas akademika bahwa pendidikan tinggi bukan sekadar bekal teori, melainkan fondasi untuk menciptakan dampak nyata dan kontribusi berkelanjutan bagi pembangunan bangsa.

SUCCESS STORY : Suwhono, Alumnus Fakultas Ekonomika Universitas Diponegoro

Suwhono merupakan salah satu alumni Fakultas Ekonomika Universitas Diponegoro yang berhasil menorehkan karier profesional di sektor keuangan dan Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Lahir pada 4 Maret 1955, ia dikenal sebagai figur yang memiliki pengalaman panjang dalam perbankan nasional serta kepemimpinan korporasi. Suwhono menyelesaikan pendidikan Strata Satu di Fakultas Ekonomika Universitas Diponegoro pada tahun 1980. Bekal akademik yang diperolehnya menjadi fondasi penting dalam perjalanan kariernya di industri keuangan dan jasa. Karier profesional Suwhono diawali di Bank Bumi Daya pada tahun 1981 hingga 2000. Setelah terjadinya merger empat bank BUMN yang melahirkan Bank Mandiri, ia melanjutkan kiprahnya di bank tersebut pada periode 2000–2009. Dalam rentang waktu tersebut, Suwhono juga dipercaya menjabat sebagai Komisaris PT Mandiri Sekuritas pada tahun 2005–2009, yang memperkuat perannya dalam pengelolaan bisnis jasa keuangan dan pasar modal. Pada tahun 2009, Suwhono mendapatkan kepercayaan dari pemerintah untuk mengemban amanah sebagai Direktur Keuangan PT Pelindo I Medan, jabatan yang diembannya hingga Februari 2011. Pengalaman lintas sektor yang dimilikinya kemudian mengantarkan Suwhono ke posisi puncak kepemimpinan sebagai Direktur Utama PT Pegadaian. Di bawah kepemimpinannya, PT Pegadaian berhasil melakukan transformasi bisnis secara signifikan. Perusahaan tidak hanya berfokus pada layanan gadai, tetapi juga mengembangkan berbagai lini usaha, antara lain penjualan emas serta pembiayaan mikro, sebagai upaya memperluas akses layanan keuangan bagi masyarakat. Kiprah Suwhono menjadi representasi kontribusi alumni FEB Undip dalam memimpin transformasi BUMN dan memperkuat inklusi keuangan nasional. Perjalanan kariernya menegaskan peran Undip dalam mencetak lulusan yang adaptif, visioner, dan berdaya saing di tingkat nasional.

SUCCESS STORY : Dr. Taufik Kurniawan dan Peran Alumni Undip dalam Pembangunan Nasional

Dr. Taufik Kurniawan, S.T., M.M., merupakan alumni Universitas Diponegoro yang menorehkan kiprah panjang di dunia politik nasional dan parlemen Indonesia. Lahir di Semarang pada 22 November 1967, ia dikenal sebagai sosok yang aktif dalam organisasi serta konsisten mengabdikan diri pada pelayanan publik melalui lembaga legislatif. Taufik berhasil terpilih untuk ketiga kalinya sebagai Anggota DPR RI periode 2014–2019 dari Partai Amanat Nasional (PAN) untuk Daerah Pemilihan Jawa Tengah VII yang meliputi Purbalingga, Banjarnegara, dan Kebumen, dengan perolehan 59.945 suara. Pada periode sebelumnya, yakni 2009–2014, ia mengemban amanah sebagai Wakil Ketua DPR RI serta bertugas di Komisi V, yang membidangi sektor perhubungan, perumahan rakyat, pekerjaan umum, serta pembangunan desa dan kawasan tertinggal. Dalam bidang akademik, Dr. Taufik Kurniawan menempuh seluruh jenjang pendidikan tingginya di Universitas Diponegoro. Ia menyelesaikan pendidikan Sarjana Teknik (S.T.) pada Program Studi Teknik Kimia, Fakultas Teknik Undip pada tahun 1992, kemudian melanjutkan ke Program Magister Manajemen dan lulus pada tahun 1995. Komitmennya terhadap pengembangan keilmuan berlanjut hingga jenjang doktoral melalui Program Doktor Ilmu Ekonomi Universitas Diponegoro, yang diselesaikannya pada tahun 2014. Selain berkiprah di dunia akademik dan legislatif, Dr. Taufik dikenal memiliki ketertarikan kuat terhadap aktivitas organisasi. Karier politiknya diawali dengan keterlibatan aktif di Partai Amanat Nasional, termasuk menjabat sebagai Sekretaris DPW PAN Jawa Tengah, yang menjadi pijakan awal dalam perjalanan panjangnya di dunia politik nasional. Kiprah Dr. Taufik Kurniawan mencerminkan kontribusi nyata alumni Universitas Diponegoro, khususnya dari disiplin ilmu ekonomi, dalam mengisi ruang-ruang strategis pengambilan kebijakan publik. Keberhasilannya menjadi bukti peran Undip dalam mencetak pemimpin berintegritas yang berorientasi pada pembangunan dan kesejahteraan masyarakat.

Success Story : Dari Fakultas Ekonomika dan Bisnis Undip Menuju Puncak Dunia Bisnis Indonesia

Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Diponegoro (FEB Undip) mencatat salah satu kisah inspiratif alumninya melalui sosok Michael Bambang Hartono, pengusaha nasional yang dikenal luas sebagai figur sentral dalam dunia bisnis Indonesia. Bersama sang kakak, Robert Budi Hartono, beliau membangun dan mengembangkan kelompok usaha besar yang bergerak di berbagai sektor strategis, mulai dari industri rokok, perbankan, teknologi, hingga properti. Perjalanan panjang tersebut bermula dari bangku kuliah di FEB Undip, Semarang. Michael Bambang Hartono lahir di Kudus, Jawa Tengah, pada 2 Oktober 1939. Setelah menempuh pendidikan di Fakultas Ekonomika dan Bisnis Undip, beliau melanjutkan peran keluarga dengan mengelola PT Djarum pascawafatnya sang ayah pada tahun 1963. Tantangan besar sempat dihadapi, termasuk musibah kebakaran pabrik yang mengakibatkan kerugian signifikan. Namun, melalui ketangguhan, inovasi, dan strategi bisnis yang berkelanjutan, PT Djarum berhasil tumbuh menjadi salah satu perusahaan rokok terbesar dan paling berpengaruh di Indonesia. Di luar dunia bisnis, Michael Bambang Hartono juga menunjukkan dedikasi tinggi dalam bidang olahraga, khususnya cabang bridge. Beliau pernah mewakili Indonesia pada Asian Games 2018 dan berhasil meraih medali perunggu, menjadikannya salah satu atlet tertua yang meraih prestasi di ajang olahraga internasional tersebut. Capaian ini menegaskan bahwa semangat berprestasi dan daya juang dapat terus tumbuh lintas usia dan bidang. Kontribusi Michael Bambang Hartono juga tercermin dalam kepeduliannya terhadap dunia pendidikan, termasuk FEB Undip. Pada peringatan 60 Tahun FEB Undip, beliau menyampaikan orasi ilmiah yang menekankan pentingnya kualitas pendidikan tinggi dalam menghadapi tantangan globalisasi dan Revolusi Industri 4.0. Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam menyiapkan sumber daya manusia yang adaptif, kompeten, dan berdaya saing global. Kisah Michael Bambang Hartono menjadi bukti bahwa FEB Undip telah melahirkan lulusan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga mampu memberi dampak nyata bagi perekonomian dan masyarakat luas. Dari ruang kelas hingga panggung bisnis nasional dan internasional, perjalanan beliau menjadi inspirasi bagi generasi muda untuk terus berinovasi, berintegritas, dan berkontribusi bagi bangsa.

SUCCESS STORY : Tirta Segara Menuju Kepemimpinan di OJK dan Bank Indonesia

Tirta Segara, S.E., M.BA., adalah sosok profesional yang telah mengukir perjalanan gemilang dalam dunia keuangan Indonesia. Sebagai alumni Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Diponegoro (FEB Undip), beliau menunjukkan bahwa pendidikan yang kuat dapat menjadi landasan untuk mencapai puncak kepemimpinan di sektor publik. Lahir di Semarang pada 1963, Tirta memulai perjalanan akademiknya dengan menempuh pendidikan di Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Diponegoro, Semarang, dan meraih gelar Sarjana Ekonomi pada tahun 1987. Beliau kemudian melanjutkan studi di The George Washington University, memperoleh gelar Magister Administrasi Bisnis di bidang Keuangan dan Investasi pada tahun 1994 dengan beasiswa dari Bank Indonesia. Karier profesional beliau dimulai dengan bekerja di Indofood Group sebelum bergabung dengan Bank Indonesia melalui program PCPM pada tahun 1998. Selama hampir tiga dekade, beliau memegang berbagai peran, termasuk posisi kepemimpinan strategis, dan menjabat sebagai Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi dan Juru Bicara Bank Indonesia. Pada 2024, Tirta ditunjuk sebagai Komisaris Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang berspesialisasi di bidang Pendidikan dan Perlindungan Konsumen. Dalam peran ini, beliau berfokus pada peningkatan literasi keuangan dan perlindungan konsumen, menjawab tantangan dalam pemahaman masyarakat tentang produk keuangan. Upayanya bertujuan untuk menutup kesenjangan antara inklusi keuangan dan literasi, menekankan pendidikan, regulasi, dan pengawasan penyedia layanan keuangan. Kisah Tirta Segara adalah contoh nyata bagaimana pendidikan yang kuat, visi yang jelas, dan kerja keras dapat membawa seseorang mencapai puncak kesuksesan. Sebagai alumni Fakultas Ekonomika dan Bisnis Undip, beliau tidak hanya berhasil membangun karier yang cemerlang di sektor publik, tetapi juga memberikan kontribusi positif bagi bangsa melalui kebijakan layanan keuangan yang adil dan berkelanjutan.

SUCCESS STORY : Dari Bangku FEB Undip ke Pemerintahan Daerah: Perjalanan Suyono sebagai Wakil Bupati Batang

Suyono, S.IP., M.Si., merupakan alumni Program Magister Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Diponegoro (FEB Undip) yang dikenal luas atas kiprahnya dalam pemerintahan daerah serta kedekatannya dengan masyarakat. Ia lahir pada 27 April 1966 dan menjabat sebagai Wakil Bupati Batang, Jawa Tengah, periode 2017–2022, mendampingi Bupati Wihaji. Selama masa kepemimpinannya, pasangan Bupati Wihaji dan Wakil Bupati Suyono mengusung tagline “Guyub Rukun Mbangun Batang”, yang merefleksikan semangat kebersamaan, gotong royong, dan pembangunan partisipatif. Tagline tersebut tidak hanya menjadi slogan, tetapi juga tercermin dalam praktik kepemimpinan dan pelayanan publik di Kabupaten Batang. Dalam bidang akademik, Suyono menyelesaikan pendidikan Sarjana Ilmu Pemerintahan di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Widya Mataram Yogyakarta dan lulus pada tahun 2007. Ia kemudian melanjutkan studi ke jenjang magister di Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Diponegoro, yang diselesaikannya pada tahun 2014. Pendidikan di FEB Undip memperkuat pemahamannya mengenai tata kelola pemerintahan, manajemen publik, serta pengambilan kebijakan berbasis ekonomi dan kesejahteraan masyarakat. Suyono dikenal sebagai pemimpin yang dekat dan mudah diakses oleh masyarakat. Gaya kepemimpinannya yang sederhana, tanpa jarak protokoler yang kaku, membuatnya akrab dengan berbagai lapisan warga. Sejak menjabat sebagai wakil bupati, ia aktif melakukan blusukan ke rumah-rumah warga, khususnya masyarakat kurang mampu, serta terlibat langsung dalam berbagai kegiatan sosial, seperti pembagian bantuan pangan, khitanan anak yatim, dan pelaksanaan salat Jumat keliling. Kiprah Suyono menunjukkan peran nyata alumni FEB Undip dalam menghadirkan kepemimpinan yang humanis, inklusif, dan berorientasi pada pelayanan publik. Pengalamannya menjadi bukti bahwa penguatan kapasitas akademik di bidang ekonomi dan manajemen publik dapat berkontribusi langsung pada pembangunan daerah dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.